Suaraakademis.com.|Tangerang Selatan – Menyambut libur nasional Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H, warga Cirendeu, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, menggelar kegiatan sosial dan silaturahmi secara serentak pada Selasa, 16 Juni 2026. Acara berpusat di kediaman mantan Kepala Adjutifikasi Kantor ATR/BPN Kepulauan Seribu Pemprov DKI Jakarta, Drs. Tukiyo Anwar SE.MM, yang juga merupakan tokoh pendiri Paguyuban Rakyat Cirendeu Bersuara.
Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh, aktivis, dan elemen masyarakat, antara lain Dr. Bernard BBBBI Siagian SH.MAkp (Ketua Umum LBH PERS Prima Presisi Polri), Suparno, Mak Uwok Siti Utari, Zr Op Helena Sidabutar, Bunda Dewi, Bunda Endah, Pendeta Cici Milkha Nahor, serta tokoh jurnalis, pengacara, dan aktivis anti‑rasuah lainnya. Turut hadir juga perwakilan PPWI, GAKORPAN, dan Komunitas Relawan Rumah Besar Prabowo‑Gibran.
Acara digagas oleh Pendeta Cici Milkha Nahor dari Rumah Doa GAKORPAN # Milkha Indonesia, yang beralamat di Jalan Cirendeu Raya I RT 04/01. Lokasi kegiatan berada di kawasan yang dihuni sekitar 200 kepala keluarga (KK) yang dinilai masih dalam kondisi ekonomi kurang mampu dan menghadapi masalah pertanahan yang belum selesai selama puluhan tahun.
Sengketa Tanah Berlarut‑larut Selama 65 Tahun
Dalam pertemuan tersebut, warga menyampaikan keluhan utama terkait pengurusan sertifikat hak milik (SHM) yang terkatung‑katung hingga 65 tahun lamanya. Warga telah membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) selama lebih dari 20 tahun, namun permintaan rekomendasi pertanahan ke Kelurahan Cirendeu selalu mengalami kendala.
Menurut penjelasan Zr Op Helena Sidabutar, mantan PNS Pemprov DKI Jakarta, warga justru mendapat perlakuan kasar saat berupaya berkomunikasi dengan pihak kelurahan. Oknum di sana diklaim menyatakan tanah tersebut boleh didiami, namun tidak boleh dimintakan hak kepemilikan, dengan alasan tanah itu adalah warisan leluhur pejabat terdahulu.
Secara historis, tanah ini diketahui merupakan tanah bengkok atau tanah pengelolaan desa zaman Orde Lama hingga Orde Baru, yang fungsinya untuk biaya operasional perangkat desa. Kemudian kavlingan tersebut dijual kepada warga pendatang, termasuk mantan PNS, namun hingga kini status hukumnya belum jelas.
Doa Bersama dan Harapan Penyelesaian
Selain menyuarakan hak pertanahan, acara juga diisi doa bersama. Warga mendoakan agar situasi negara tetap kondusif di tengah gelombang demonstrasi, serta memohon kesembuhan bagi lansia yang menderita penyakit kronis seperti diabetes, gangguan jantung, dan pernapasan.
Secara pribadi, tuan rumah Drs. Tukiyo Anwar juga menyampaikan harapan dan doa kerinduan akan kehadiran kembali anaknya, Djati Kusumo, yang telah pergi dari rumah selama satu tahun tanpa kabar. Meski berat, beliau tetap tegar dan berharap keajaiban terjadi.
Desakan Keadilan dan Rapat Akbar
Melalui DPP GAKORPAN, warga Cirendeu meminta perhatian serius dari Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Kepala KSP, Menteri ATR/BPN, Komisi II DPR RI, serta Pemkot Tangerang Selatan dan Kepala Kantor ATR/BPN Tangsel.
Mereka mengundang para pemangku kepentingan untuk hadir dalam Rapat Akbar Pencerahan Hukum Agraria Pertanahan Desa Cirendeu Tangerang Selatan, guna membahas penyelesaian masalah sertifikasi tanah secara terbuka dan objektif.
Kegiatan ditutup dengan ucapan selamat Tahun Baru Islam serta semangat GAKORPAN Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045.
(Tim Investigasi DPP GAKORPAN / Rev. Marcel Gerungan SH.MH)
