Langkat|Suaraakademis.com– Perjuangan seorang bidan desa dalam menyelamatkan pasien rujukan dari wilayah terpencil di Desa Pangkalan Siata, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, menyita perhatian publik. Peristiwa yang terjadi pada Kamis (30/7/2026) itu kembali menyoroti persoalan akses infrastruktur dan layanan kesehatan di wilayah pesisir Kabupaten Langkat.
Redaksi memperoleh keterangan langsung dari Vera Leli Septiana Manullang, tenaga kesehatan Puskesmas Pangkalan Susu yang bertugas di Desa Pangkalan Siata. Menurutnya, sekitar pukul 17.00 WIB, ia membawa seorang pasien bernama Romaida Boru Saragih untuk dirujuk ke Rumah Sakit Mahkota Bidadari, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat.
Saat dirujuk, kondisi pasien dilaporkan mengalami sesak napas, kadar gula darah tinggi, tubuh lemah, dan telah terpasang infus sehingga membutuhkan penanganan medis lanjutan secepatnya.
Karena keterbatasan akses jalan darat menuju Desa Pangkalan Siata, proses rujukan terpaksa dilakukan melalui jalur laut menggunakan perahu.
Namun di tengah perjalanan, cuaca dan kondisi alam berubah menjadi ancaman. Perahu yang mereka tumpangi diterjang ombak hingga terbawa ke tepian perairan, kemudian kandas akibat air laut surut.
Dalam kondisi tersebut, Vera bersama keluarga pasien dan pengemudi perahu segera menghubungi sejumlah pihak untuk meminta bantuan darurat.
Menurut keterangan Vera, sekitar tiga puluh menit berlalu, namun bantuan yang diharapkan belum juga tiba. Di saat bersamaan, hujan deras mengguyur kawasan tersebut, disertai petir dan angin kencang yang semakin memperburuk situasi.
Di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian, Vera mengaku dihadapkan pada pilihan yang sulit.
Menunggu di atas perahu dinilai berisiko terhadap keselamatan pasien.
Akhirnya, bersama keluarga pasien dan pengemudi perahu, Vera memutuskan turun dari perahu dan mengangkat pasien yang masih terpasang infus untuk berjalan perlahan melintasi perairan dangkal menuju daratan.
Perjalanan tersebut bukan perkara mudah.
Dengan kondisi hujan deras dan cuaca yang tidak bersahabat, mereka harus memastikan pasien tetap aman sambil berjalan di dasar perairan yang tidak diketahui terdapat apa di bawahnya.
Sekitar pukul 19.00 WIB, rombongan akhirnya berhasil mencapai daratan.
Namun perjuangan belum berakhir.
Menurut Vera, bantuan yang dinantikan masih belum tiba. Dalam kondisi basah kuyup dan kelelahan, ia terus menghubungi Kepala Puskesmas Pangkalan Susu untuk meminta bantuan.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Kepala Puskesmas Pangkalan Susu kemudian berupaya mencari perahu sewaan yang berada di Pelabuhan Pangkalan Susu untuk menjemput pasien beserta rombongan di lokasi mereka terdampar.
Setelah berhasil dievakuasi menuju Pelabuhan Pangkalan Susu, pasien kemudian dibawa menggunakan ambulans Rumah Sakit Mahkota Bidadari menuju Rumah Sakit Mahkota Bidadari untuk mendapatkan penanganan medis.
Ironisnya, perjuangan menyelamatkan pasien tersebut harus dibayar mahal.
Akibat berjalan cukup jauh di dasar perairan sambil membantu mengangkat pasien, kedua kaki Vera mengalami banyak luka yang diduga akibat terkena benda tajam atau biota laut. Hingga kini, Vera turut menjalani perawatan di Rumah Sakit Mahkota Bidadari bersama pasien yang dirujuknya.
Kisah tersebut menjadi potret nyata perjuangan tenaga kesehatan di daerah terpencil yang harus menghadapi berbagai keterbatasan demi memastikan masyarakat tetap memperoleh pelayanan kesehatan.
AMPAS: Negara Tidak Boleh Absen Saat Rakyat Membutuhkan Pertolongan
Menanggapi peristiwa tersebut, Ketua Anak Muda Pangkalan Susu (AMPAS), Raya Samosir, menyampaikan keprihatinan sekaligus kritik keras kepada Pemerintah Kabupaten Langkat, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, pemerintah pusat, serta instansi terkait.
Menurut Raya, peristiwa tersebut tidak boleh dipandang sebagai musibah biasa, melainkan menjadi bahan evaluasi serius terhadap pemerataan pembangunan dan pelayanan publik.
> “Peristiwa ini bukan sekadar musibah. Ini adalah peringatan bahwa masih ada masyarakat yang belum benar-benar merasakan kehadiran negara. Sangat menyedihkan, di tahun 2026 masih ada tenaga kesehatan yang harus mempertaruhkan keselamatannya karena buruknya akses menuju desa. Ini tidak boleh dianggap sebagai hal yang biasa,” ujar Raya kepada awak media.
Ia menegaskan bahwa kondisi geografis tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan masyarakat hidup dalam keterbatasan.
> “Kalau memang Desa Pangkalan Siata merupakan wilayah yang sulit dijangkau, justru di situlah negara harus hadir lebih kuat. Jangan jadikan keterpencilan sebagai alasan untuk lambat membangun. Yang dibutuhkan masyarakat bukan alasan, tetapi solusi nyata.”
Raya mendesak Pemerintah Kabupaten Langkat agar segera membangun akses jalan yang layak menuju Desa Pangkalan Siata sehingga masyarakat tidak lagi bergantung pada jalur laut yang memiliki risiko tinggi, terutama saat keadaan darurat.
Ia juga meminta Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pemerintah Pusat memberikan perhatian khusus terhadap desa-desa terpencil di wilayah pesisir melalui pembangunan infrastruktur dan peningkatan layanan kesehatan.
Menurutnya, sudah saatnya Desa Pangkalan Siata memiliki Puskesmas Pembantu (Pustu) yang benar-benar layak, dilengkapi fasilitas rawat inap, tenaga kesehatan yang memadai, obat-obatan, serta sarana penunjang sehingga masyarakat tidak selalu harus dirujuk keluar desa untuk mendapatkan pelayanan medis dasar.
> “Lebih baik anggaran diprioritaskan untuk membangun jalan dan fasilitas kesehatan daripada rakyat terus dipaksa mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan hak dasarnya. Pelayanan kesehatan adalah hak setiap warga negara sebagaimana dijamin oleh konstitusi.”
Raya juga meminta seluruh instansi yang memiliki kewenangan dalam penanganan keadaan darurat melakukan evaluasi menyeluruh apabila memang terdapat kendala dalam proses penanganan laporan masyarakat.
> “Kami tidak sedang mencari siapa yang harus disalahkan. Yang kami tuntut adalah evaluasi dan perbaikan. Jangan tunggu ada korban jiwa baru semua pihak sibuk turun ke lapangan. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama.”
Di akhir keterangannya, Raya menyampaikan penghargaan kepada Bidan Vera Leli Septiana Manullang atas dedikasi dan keberaniannya dalam menjalankan tugas.
> “Kami memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada Bidan Vera. Beliau telah menunjukkan arti pengabdian yang sesungguhnya. Namun jangan biarkan pengorbanan tenaga kesehatan dijadikan penutup atas lemahnya pembangunan. Seorang bidan seharusnya fokus menyelamatkan pasien, bukan ikut menjadi korban akibat buruknya infrastruktur.”
AMPAS berharap peristiwa ini menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk segera membenahi akses jalan, pelayanan kesehatan, dan sistem tanggap darurat di Desa Pangkalan Siata agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Keterangan Redaksi
Saat berita ini diterbitkan, unggahan media sosial yang pertama kali mengungkap peristiwa tersebut sudah tidak lagi dapat diakses karena telah dihapus oleh pemilik akun. Redaksi belum memperoleh keterangan mengenai alasan penghapusan unggahan tersebut.
Pemberitaan ini disusun berdasarkan keterangan langsung Bidan Vera Leli Septiana Manullang kepada redaksi, informasi yang berhasil dihimpun di lapangan, serta upaya konfirmasi kepada sejumlah pihak terkait. Hingga berita ini diterbitkan, redaksi masih menunggu tanggapan resmi dari instansi yang berkaitan dengan penanganan peristiwa tersebut.
Redaksi tetap berpegang pada prinsip akurasi, keberimbangan, praduga tidak bersalah, serta memberikan ruang bagi seluruh pihak untuk menggunakan hak jawab sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Apabila terdapat klarifikasi atau perkembangan baru, redaksi akan memperbarui pemberitaan secara proporsional sesuai fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
AA
