Unggahan Viral Berhari-hari di Medsos; Ternyata Huruf “I” Hilang Saat Mengetik — Bukan Lawan Sesama, Melawan Sikap Hilangnya Nilai Kebaikan
Suaraakademis.com.|Kabupaten Mamasa — Unggahan Wakil Bupati Mamasa, H. Sudirman, yang berbunyi “Siap perang menghadapi kezaliman” memicu perbincangan hangat dan menyebar secara viral selama berhari-hari di Facebook maupun berbagai grup WhatsApp Kabupaten Mamasa. Masyarakat luas pun bertanya-tanya: perang melawan siapa? Kezaliman dari mana?
Karena belum ada penjelasan, sorotan pun muncul. Tokoh pemuda daerah, Ronny, angkat bicara melalui pemberitaan yang meminta kejelasan terbuka dari Wakil Bupati agar tidak menimbulkan spekulasi yang beragam di tengah masyarakat.
SAAT DIKONFIRMASI, WAKIL BUPATI JELASKAN: TERNYATA SALAH KETIK!
Menyikapi perbincangan yang semakin meluas, Ayu Lestari, Kepala Perwakilan Sulawesi Barat Media SuaraAkademis.com, mengonfirmasi langsung kepada Wakil Bupati Mamasa, H. Sudirman, pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Kepada Ayu Lestari, Wakil Bupati akhirnya menyampaikan penjelasan secara terbuka:
“Yang saya maksud sebenarnya adalah: ‘Siap perangi KESALIMAN’. Saat saya mengetik, huruf ‘I’ hilang, sehingga yang terbaca dan dipahami masyarakat menjadi ‘kezaliman’. Padahal maksud saya jauh dari itu,” tegas H. Sudirman.
Lebih lanjut, Wakil Bupati menjelaskan makna kalimat tersebut merujuk pada kearifan lokal dan karakter asli masyarakat Mamasa, yakni ungkapan “Sitayuk, Sirande, Simaya-maya” — yaitu hidup rukun, saling tolong-menolong, saling menyayangi, saling membantu, dan hidup berdampingan secara harmonis.
“Saya menyampaikan demikian karena melihat adanya pergeseran nilai karakter masyarakat Mamasa. Nilai luhur ‘Sitayuk’ itu sudah mulai hilang. Kearifan lokal yang seharusnya menjadi pegangan bersama, kini perlahan terkikis,” ungkapnya.
YANG DIPERANGI ADALAH SIKAP BURUK, BUKAN SESAMA MANUSIA
Wakil Bupati menegaskan, yang dimaksud untuk “diperangi” adalah sikap-sikap buruk yang mulai merusak keharmonisan masyarakat Mamasa:
“Yang muncul sekarang justru sebaliknya — fitnah, penghinaan, mencaci maki, dan menzalimi sesama. Hal-hal inilah yang marak terlihat di media sosial maupun di tengah masyarakat. Kita harus perangi sikap-sikap saling menyakiti itu. Bukan perang melawan sesama, melainkan perang melawan hilangnya kebaikan dan kebersamaan kita.”
Ia mempertanyakan, di mana lagi semangat “Sitayuk” yang dulu dikenal sebagai ciri khas masyarakat Mamasa?
“Di mana lagi kebersamaan kita? Peristiwa di Rano saja sudah main kekerasan. Di medsos saling mencaci, saling memojokkan, saling menghina, saling menzalimi. Inikah yang disebut ‘Sitayuk’? Tentu bukan. Karena itulah dalam komitmen saya, saya mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama melawan sikap-sikap yang merusak kebersamaan itu, dan kembali menghidupkan semangat ‘Sitayuk, Sirande, Simaya-maya’ yang sudah mulai hilang,” jelas H. Sudirman.
PENJELASAN DIPERJELASKAN, PUBLIK KINI MEMAHAMI MAKSUD SEBENARNYA
Dengan adanya penjelasan langsung dari Wakil Bupati saat dikonfirmasi pada Sabtu, 1 Agustus 2026, masyarakat kini memahami maksud sesungguhnya dari unggahan yang sempat viral tersebut. Ternyata bukan perang melawan pihak tertentu, melainkan ajakan bersama untuk melawan sikap-sikap yang merusak keharmonisan dan mengembalikan nilai luhur kearifan lokal Mamasa.
Redaksi menyampaikan terima kasih atas penjelasan yang telah disampaikan secara terbuka. Sesuai Kode Etik Jurnalistik, pemberitaan ini disajikan secara berimbang guna meluruskan pemahaman yang berkembang di tengah masyarakat.(Ayu)
