Suaraakademis.com.|Kota Tangerang — Festival Maulid Nusantara VII Kota Tangerang hadir dengan tajuk “Panggung Rakyat”: merawat sejarah, kebudayaan, dan nilai-nilai keislaman melalui seni yang tumbuh di tengah masyarakat. Diketuai oleh Midyani, festival ini menjadi ruang perjumpaan masyarakat dan seniman lokal — termasuk Samsaka Band dan Akamsi Band — yang membawa semangat baru dalam merayakan sekaligus merefleksikan perjalanan Islam di Nusantara.
SENI SEBAGAI JALAN DAKWAH — KEMBALI KE AKAR PENYEBARAN ISLAM!
Penyebaran Islam di Nusantara tidak pernah berjalan secara kaku. Para ulama dan tokoh masa lalu justru menyampaikan pesan-pesan kebaikan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat: pendidikan, perdagangan, hubungan sosial, dan tak kalah penting — seni dan budaya.
“Seni, sastra, musik, pertunjukan, tradisi, dan cerita menjadi bahasa yang mampu menjembatani nilai-nilai baru dengan kebudayaan lokal. Inilah yang ingin dihidupkan kembali melalui Panggung Rakyat.”
Kehadiran Samsaka Band dan Akamsi Band bukan sekadar hiburan. Keduanya menjadi simbol bahwa seniman lokal memiliki peran besar dalam menjaga kesinambungan kebudayaan. Musik menjadi ruang untuk mempertemukan lintas generasi, sekaligus cara yang lebih dekat dan menyentuh hati untuk mengenalkan kembali sejarah Islam kepada masyarakat luas.
“PANGGUNG RAKYAT” — BUKAN HANYA PERTUNJUKAN, TAPI RUANG BERSAMA!
Tajuk “Panggung Rakyat” memiliki makna yang dalam: kebudayaan seharusnya tumbuh bersama masyarakat. Panggung bukan hanya tempat tampil, melainkan ruang bersama untuk berekspresi, berkumpul, dan mengingat kembali perjalanan sejarah yang pernah mewarnai peradaban Nusantara.
Festival ini ingin menunjukkan bahwa mengenang sejarah Islam tidak harus selalu dalam ruang formal. Sejarah dapat hadir melalui nada musik, tarian, cerita lisan, tradisi, dan kreativitas masyarakat sehari-hari. Dengan melibatkan seniman lokal, festival ini sekaligus menjadi bentuk apresiasi tulus terhadap para pelaku seni yang terus menjaga kehidupan kebudayaan di Kota Tangerang.
MENGINGAT MASA LALU, MENATAP MASA DEPAN — SEJARAH TIDAK HANYA DITULIS DENGAN TINTA!
Di tengah arus perubahan zaman yang begitu cepat, generasi muda membutuhkan cara baru untuk mengenal dan mencintai sejarah. Seni dan budaya hadir sebagai jembatan agar sejarah tidak berhenti sekadar menjadi cerita masa lalu yang kian pudar.
“Kemajuan peradaban tidak hanya lahir dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menjaga ingatan, kebudayaan, nilai, dan identitasnya.”
Festival Maulid Nusantara VII diharapkan menjadi momentum untuk mengingat kembali bagaimana Islam berkembang di Nusantara — penuh kelembutan, penuh dialog, berinteraksi indah dengan budaya lokal, dan melahirkan kekayaan tradisi yang hingga kini masih kita rasakan.
“Sebab sejarah tidak hanya ditulis dengan tinta. Sejarah juga diwariskan melalui lagu, tradisi, seni, dan cerita yang terus hidup dari generasi ke generasi.”
FESTIVAL MAULID NUSANTARA VII KOTA TANGERANG
“PANGGUNG RAKYAT”
Merawat Tradisi • Menghidupkan Seni • Mengenang Sejarah • Menyambung Peradaban(tim/Red)