Suaraakademis.com.|Gunungsitoli – Kehadiran pejabat tinggi negara, termasuk Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah ke Pulau Nias, disambut harapan sekaligus menjadi momen penyampaian kritik tajam dari pengamat sekaligus pemerhati daerah, Yusman Dawolo. Melalui siaran langsung di akun media sosialnya, ia menegaskan agar kunjungan kerja tidak hanya berhenti di tempat yang sudah layak, melainkan dibawa ke lokasi yang paling membutuhkan perhatian serius.
Menurut Yusman yang akrab disapa YD, kehadiran pimpinan pusat maupun daerah harus melihat kenyataan sesungguhnya di lapangan.
“Kalau Menteri, Gubernur, bahkan Presiden datang ke Nias, jangan dibawa ke sekolah yang sudah bagus, gedungnya permanen, dan fasilitasnya lengkap. Bawalah mereka ke sekolah yang kondisinya hampir roboh, atapnya bocor, meja dan kursi sudah tidak layak pakai, serta sekolah yang jaraknya sangat jauh dari pemukiman warga,” tegasnya.
Ia menjelaskan, selama ini banyak anak di sejumlah wilayah Nias harus berjalan kaki sejauh 5 hingga 10 kilometer setiap hari hanya untuk menuntut ilmu, karena belum tersedia SMP maupun SMA di daerah tempat tinggal mereka. Jika pejabat melihat langsung kondisi tersebut, diyakini akan muncul kebijakan nyata untuk membangun sekolah baru dan memperbaiki akses pendidikan.
Sorot Nasib Guru Honorer dan Anak Kurang Mampu
Selain soal sarana prasarana, Yusman juga menyoroti nasib tenaga pendidik, khususnya guru honorer. Ia menyebutkan banyak di antara mereka hanya menerima penghasilan sangat minim, bahkan ada yang hanya mendapatkan Rp100.000 hingga Rp500.000 per bulan, dan pembayarannya pun sering tidak teratur.
“Kondisi ini harus disampaikan terus terang kepada Menteri. Jangan takut berbicara. Bagaimana guru bisa mengajar dengan tenang jika kesejahteraannya tidak terjamin?” ujarnya.
Ia juga mendesak agar perhatian lebih diberikan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu, terutama anak petani, nelayan, dan peternak. Banyak dari mereka terpaksa putus sekolah hanya karena tidak mampu menutupi biaya pendidikan, bahkan hanya untuk kebutuhan sehari-hari di sekolah. Oleh sebab itu, Yusman meminta agar program beasiswa diperluas hingga ke jenjang perguruan tinggi.
Usul Pendirian Universitas Negeri
Lebih jauh, Yusman menyampaikan harapan besar agar pemerintah pusat mendirikan universitas negeri di setiap kabupaten dan kota di Pulau Nias. Menurutnya, kemajuan suatu daerah sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia, dan hal itu tidak bisa dicapai tanpa akses pendidikan tinggi yang terjangkau.
“Kita ingin putra-putri Nias memiliki pendidikan tinggi minimal sarjana. Kalau tidak ada universitas negeri di sini, anak-anak kita kesulitan melanjutkan studi karena terbentur biaya dan jarak. Ini harus menjadi perhatian serius,” tambahnya.
Kritik dan usulan ini disampaikan sebagai bentuk kepedulian agar kunjungan pejabat tidak sekadar seremonial, melainkan melahirkan solusi nyata. Yusman berharap wali kota dan bupati se-Nias dapat mengatur jadwal kunjungan dengan lebih tepat sasaran, sehingga kehadiran pemerintah benar-benar menyentuh kebutuhan paling mendasar masyarakat.(Red)
