Warga Pekanbaru Resah: BBM Bersubsidi Diduga Dialihkan, Warga Biasa Justru Sulit Dapat Jatah
Suaraakademis.com.|Pekanbaru — Kemudahan mendapatkan bahan bakar justru menjadi hal yang sulit bagi warga di sekitar Kecamatan Tenayan Raya. Hampir setiap hari, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina nomor 13.282.621 di Jalan Gunung Salak dan Jalan Pesantren, Kelurahan Tangkerang Timur, dipadati antrean kendaraan yang mengular panjang. Warga menduga kuat, kondisi ini bukan semata karena tingginya kebutuhan, melainkan ulah aktivitas kendaraan yang diduga mengambil keuntungan dari BBM bersubsidi.
Keluhan ini bukan hal baru, melainkan sudah berlangsung lama dan meresahkan sehari-hari. Warga yang hendak berangkat kerja, mengantar anak sekolah, atau berurusan mendesak terpaksa membuang waktu berjam-jam hanya untuk mengisi tangki kendaraan.
“Saya sangat kecewa. Hampir setiap hari antreannya panjang sekali. Kami perhatikan, kendaraan tertentu datang berulang kali, mengisi dalam jumlah besar, lalu pergi dan kembali lagi tak lama kemudian. Kami warga biasa yang butuh untuk kebutuhan sendiri justru tertahan di belakang,” keluh salah satu warga yang meminta namanya dirahasiakan, Senin (10/8).
Dampaknya terasa nyata: banyak pekerja terlambat masuk kantor, tak jarang mendapat teguran atasan. Belum lagi keluhan stok yang sering habis lebih cepat dibandingkan SPBU lain di sekitarnya, memaksa warga terpaksa membeli eceran di pinggir jalan dengan harga jauh lebih mahal.
PENGELOLA MENYANGKAL, BELUM JELASKAN PENYEBAB ANTRIAN
Merespons keluhan ini, Media Cybernasional menghubungi pihak pengelola SPBU untuk mendapatkan hak jawab yang berimbang. Melalui pesan WhatsApp, Manajer SPBU bernama Agus membantah tudingan tersebut.
“Mohon maaf, hal yang Bapak/Ibu maksud itu tidak benar adanya. Kalau foto ini menurut Anda seperti yang Anda pikirkan, itu terserah Anda. Yang jelas kami tidak merasa melakukan apa yang Anda maksud,” tulis Agus.
Namun hingga saat ini, pihak pengelola belum memberikan penjelasan rinci mengapa antrean terjadi setiap hari dan mengapa stok sering habis lebih cepat. Ruang klarifikasi tetap terbuka luas bagi pihak manajemen untuk menjelaskan fakta sesungguhnya.
MASYARAKAT TUNTUT PENGAWASAN TEGAS
Sementara itu, upaya konfirmasi ke pihak Kepolisian, Kanit Reskrim maupun Kanit Lantas Polsek Tenayan Raya, masih terus dilakukan dan belum diperoleh tanggapan resmi.
Warga menegaskan mereka tidak menuduh tanpa alasan, melainkan berdasarkan apa yang dilihat setiap hari. Mereka meminta Pertamina dan aparat penegak hukum segera turun tangan memantau dan menindak tegas jika terbukti ada pelanggaran.
“Kami hanya minta sederhana: pastikan BBM bersubsidi benar-benar untuk yang berhak. Jangan sampai warga kecil kesulitan, sementara oknum yang mencari untung pribadi justru bebas beroperasi setiap hari,” tegas warga lainnya.
Masyarakat berharap pengawasan berjalan konsisten dan transparan, agar penyaluran BBM tepat sasaran, tidak lagi menghambat aktivitas warga, dan tidak merugikan pendapatan negara.
(TIM/Red)