Oleh: Novita Sari Yahya
Saya sedang membawa antologi berisi 23 cerpen romansa cinta saya melangkah lebih jauh menuju layar lebar. Karya ini direncanakan hadir dalam berbagai bentuk: film layar lebar, FTV, serial, hingga platform streaming seperti Netflix.
Namun gagasan ini lahir bukan karena saya ingin menampilkan kisah cinta yang meledak-ledak dan penuh kejutan luar biasa. Justru sebaliknya. Saya percaya ada kekuatan yang luar biasa besar dalam cerita yang sederhana — ketika dikemas dengan tulus, mengalir, memiliki karakter yang kuat, dan mampu menampilkan jiwa manusia apa adanya.
Kekuatan Cerita yang Sederhana
Saya sering memperhatikan film-film dunia yang tampak sederhana di permukaannya. Tidak selalu ada perang, kejahatan besar, atau petualangan luar biasa. Kadang hanya tentang keluarga, persahabatan, kesepian, seseorang yang mencari jati diri, atau cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Namun ketika dihidupkan oleh aktor yang tepat dan disutradarai dengan tulus, cerita-cerita sederhana itu menjadi sangat hidup. Penonton tidak merasa sedang melihat kehidupan orang lain. Mereka merasa sedang melihat dirinya sendiri. Di situlah letak kekuatan sejati sebuah film.
Meryl Streep membuktikannya:
Kramer vs. Kramer sekadar tentang keluarga, perceraian, dan hak asuh anak
The Bridges of Madison County sekadar pertemuan singkat dan pilihan hidup yang berat
Hope Springs ekadar pasangan tua yang berusaha menemukan kembali kedekatan mereka
Tidak perlu membuat kehidupan tampak lebih besar dari kenyataan. Justru keseharian lah yang menyimpan konflik terdalam: rasa kecewa, cinta, kesepian, kebingungan, rasa bersalah, keinginan memperbaiki hubungan, seseorang yang ingin pergi namun tak mampu meninggalkan masa lalu. Semua itu adalah kehidupan nyata manusia.
Begitu pula dengan film seperti Julie & Julia yang mengangkat cerita tentang dapur, makanan, dan pernikahan; atau Notting Hill yang bercerita tentang dua orang dari dunia berbeda yang jatuh cinta. Premisnya sederhana, tetapi karakternya hidup.
Yang membuat film-film itu tak terlupakan bukanlah ceritanya yang megah, melainkan detail kecilnya: cara seseorang tertawa, cara diamnya seseorang, cara menyembunyikan kesedihan, cara terlihat baik-baik saja padahal hatinya sedang terluka.
23 Cerita, Satu Kehidupan Nyata
Inilah yang ingin saya hadirkan dari 23 cerpen romansa cinta saya. Cinta dalam kisah-kisah ini tidak selalu sempurna persis seperti kehidupan nyata:
Cinta yang datang di waktu yang salah
Cinta yang tak pernah tersampaikan
Dua orang saling mencintai namun tak bisa bersama
Seseorang yang mencintai dalam diam
Pertemuan singkat yang meninggalkan jejak panjang
Cinta yang tak berakhir pernikahan namun tetap bermakna
Bagi saya, romansa bukan hanya tentang mendapatkan seseorang. Romansa juga tentang kehilangan, menunggu, memilih, menerima, memaafkan, melepaskan, dan belajar memahami diri sendiri.
Karena itu, saat cerpen-cerpen ini kelak diadaptasi ke layar, saya bertekad tidak akan membesar-besarkan cerita hanya agar terlihat spektakuler. Saya justru ingin mempertahankan kesederhanaannya kehidupan yang mengalir apa adanya.
Penonton Tak Boleh Berjarak
Film yang baik tidak boleh membuat penonton merasa sedang mengamati kehidupan orang lain dari kejauhan. Film harus mengundang penonton masuk ke dalam cerita:
Saat karakter menangis kehilangan, penonton teringat kehilangan mereka sendiri
Saat seseorang memilih diam daripada mengungkapkan cinta, penonton teringat momen serupa dalam hidupnya
Saat dua orang bertemu kembali setelah bertahun-tahun, teringat seseorang dari masa lalu
Di situlah film menjadi pribadi. Penonton tidak sekadar melihat cerita mereka merasakannya.
Karena itu, saya membayangkan pendekatan akting yang natural. Manusia nyata tidak selalu menunjukkan emosi secara terbuka: orang sedih belum tentu menangis, orang marah belum tentu berteriak, orang mencintai belum tentu mengatakannya. Justru lapisan batin inilah yang ingin dihadirkan di layar tanpa harus berlebihan. Satu tatapan yang tulus, satu jeda dalam percakapan, terkadang jauh lebih kuat daripada satu halaman dialog.
Memindahkan Jiwa, Bukan Sekadar Cerita
Mengadaptasi cerpen ke layar bukan sekadar memindahkan tulisan menjadi gambar bergerak. Cerpen bicara lewat kata-kata; film bicara lewat wajah, keheningan, cahaya, musik, dan tatapan. Karena itu, adaptasi harus memberi kehidupan baru tanpa menghilangkan jiwa aslinya.
Saya ingin cerita-cerita ini tetap sederhana namun berkedalaman; tetap romantis namun tak berlebihan; tetap emosional namun tak memaksa penonton menangis. Dan yang terpenting tetap manusiawi.
Hidup tidak selalu berjalan rapi seperti naskah. Kadang kita bertemu tanpa rencana, kadang cinta datang saat kita belum siap, kadang seseorang pergi saat kita ingin mempertahankannya, kadang baru paham arti sebuah pertemuan setelah semuanya berakhir.
Itulah kehidupan. Dan itulah yang ingin saya hadirkan di layar. Bukan kisah cinta yang membuat penonton berkata “indah sekali ceritanya”, melainkan yang membuat mereka berkata dalam hati: “Saya pernah mengalami ini.”
Karena film terkuat bukanlah yang ceritanya paling besar. Film terkuat adalah yang mampu membuat kehidupan sederhana terasa nyata. Dan ketika penonton merasa itu adalah bagian dari kehidupan mereka pada saat itulah sebuah cerita benar-benar hidup.
Novita Sari Yahya
Penulis Antologi 23 Cerpen Romansa Cinta