Ajakan Moral: Diam Bukan Pilihan, Pembangunan Tak Boleh Mengorbankan Hak Rakyat
Oleh: M. Idris Hady, S.E.
Sekjen ADA API (Aliansi Damai Anti Penistaan Islam)
Suaraakademis.com.|Jakarta — Pembangunan dan investasi kini dipacu secepat kilat. Namun di balik sorot kemajuan itu, tersembunyi luka yang tak kunjung kering: masyarakat adat dan rakyat kecil terus diusir dari tanah leluhur, kedaulatan atas sumber daya perlahan hilang, dan ruang hidup mereka semakin sempit.( 08 Juli 2026)
Kata “jika” selama ini kerap dijadikan alasan untuk menunda, berlindung, atau memilih diam. Hari ini, kata itu harus berhenti sekadar menjadi keraguan. Ia wajib berubah menjadi tanggung jawab nyata dari kita semua.
KERAGUAN YANG MEMATIKAN HAK
Jika rakyat terus pasrah dan tak berani bersuara, mereka akan selamanya dipinggirkan. Jika kebijakan atas nama kemajuan justru merusak alam dan mengusir warga, kita harus berani bertanya: siapa sebenarnya yang diuntungkan? Seringkali perampasan tanah berjalan berdalih aturan resmi, padahal kedaulatan air, tanah, dan kekayaan alam diserahkan begitu saja demi keuntungan sesaat.
UJIAN BAGI SETIAP ELEMEN BANGSA
Jika partai politik mengaku wakil rakyat, buktikan dengan tak berkhianat pada rakyat bawah. Jangan jadikan rakyat sekadar komoditas kampanye yang dilupakan saat kekuasaan sudah di tangan.
Jika akademisi dan kampus hanya diam di menara gading saat ketidakadilan terjadi, ilmu yang dipelajari tak berarti apa-apa. Pengetahuan tanpa keberpihakan pada kebenaran tak akan pernah melahirkan perubahan.
Jika ada yang takut bersuara akan menimbulkan kegaduhan, ingatlah: kelahiran selalu butuh perjuangan. Seperti ibu melahirkan, sakit itu ada, tapi dari sanalah kehidupan baru lahir.
MENGGALI SAMPAI KE AKARNYA
Tak cukup sekadar mengobati gejala. Kita harus berani membongkar akar ketidakadilan. Seperti mencari sumber air yang harus menggali dalam, keadilan sejati hanya lahir jika kita berani menghentikan penyebab utamanya.
Jika hari ini kita diam, berarti kita membiarkan kepentingan pribadi mengalahkan nurani. Dan jika setelah ini kita masih memilih menutup mata, maka tanpa sadar kita sudah menjadi bagian dari kerusakan tanah air kita sendiri.
