Uluran Tangan Integritas: Siap Ulangi Pembuktian Hukum Sampai Kebenaran Terungkap
Suaraakademis.com.|Mukomuko , Bengkulu – 12 Agustus 2026 — Perjuangan mencari keadilan tak pernah mudah, apalagi bagi rakyat kecil yang harus berhadapan dengan belitan birokrasi dan perkara hukum yang berbelit. Kisah kesungguhan hati itu kini terlihat nyata pada sosok Syamsul Bahrun, warga asal Desa Bunga Tanjung, Kabupaten Mukomuko. Dengan hanya mengandalkan kekuatan kaki dan niat yang bulat, ia melangkah ratusan kilometer meninggalkan kampung halamannya, menembus panas dan lelah, membawa sepanduk harapan kepada Presiden dan Wakil Rakyat, hanya demi satu hal: mendapatkan keadilan yang sejati.
Aksi pengorbanan yang menyayat hati itu dengan cepat bergema ke seantero negeri, menyentuh nurani siapa saja yang melihatnya. Di tengah jalan yang terjal itu, kini secercah harapan baru hadir. Syamsul Bahrun resmi bertemu dengan Elfahmi Lubis, pengacara yang dikenal tegas, berintegritas, dan berpengalaman membela kebenaran.
“SAYA GERAK HATI MEMBANTU BELIAU”
Dalam pernyataan resminya kepada awak media, Elfahmi Lubis menyampaikan kesan mendalam setelah mendengarkan secara langsung seluruh perihal yang membebani hidup Syamsul Bahrun:
“Saya telah mendengarkan secara langsung segala perihal yang beliau sampaikan. Hati saya tergerak untuk turut membantu membuka jalan keadilan yang selama ini beliau cari. Saya tawarkan dua jalur penyelesaian secara utuh: jalur pengadilan dengan mengajukan Peninjauan Kembali (PK) atas putusan Pengadilan Agama Mukomuko, serta jalur non-litigasi dengan menyampaikan laporan ke berbagai instansi guna mengungkap fakta yang sesungguhnya.”
Elfahmi menegaskan bahwa semua keputusan ada sepenuhnya di tangan Syamsul Bahrun.
“Saya ulurkan tangan tulus untuk mendampingi beliau, agar keadilan yang berlandaskan kebenaran, transparansi, dan akuntabilitas dapat terwujud. Biarlah hukum yang berbicara, setelah kami menguji kembali seluruh bukti dan fakta secara menyeluruh.”
PERJALANAN YANG TAK LAGI SENDIRI
Langkah kaki Syamsul Bahrun bukan sekadar melangkahkan raga, melainkan perjuangan mempertaruhkan segalanya agar suara kecil tidak tertelan keadaan. Kini ia tak lagi berjalan sendirian. Ada uluran tangan yang siap mengawal, memastikan setiap fakta diperiksa, setiap bukti diteliti, dan setiap hak yang terabaikan dikembalikan sebagaimana mestinya.
Perjuangan ini menjadi cermin bagi kita semua: Keadilan bukan milik mereka yang berkuasa atau kaya saja, melainkan hak mutlak setiap warga negara yang mau berjuang membuktikan kebenaran. Semoga langkah yang sudah ditempuh dengan darah dan keringat ini segera membuahkan hasil yang adil, tanpa pandang bulu, tanpa kepentingan, dan semata-mata demi kebenaran.
(TIM LIPUTAN INVESTIGASI)
