Selain itu, GAKORPAN Gelar Diskusi Kebangsaan: Menjadi Anak Bangsa Bukan Sekadar Slogan, Melainkan Proses Perjuangan Sejati
Suaraakademis.com.|Tangerang Selatan — Sebuah langkah nyata menuntaskan sengketa tanah yang berlangsung puluhan tahun akhirnya terwujud. Hari Selasa (11/8), Komandan GAKORPAN Dr. Bernard BBBBI Siagian, S.H., M.Akp. bersama jajaran, tokoh masyarakat, dan Komunitas Rakyat Cirendeu Bersuara menyerahkan berkas permohonan sertifikasi tanah kepada pihak Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Tangerang Selatan.
Sebanyak 60 bundel Kartu Keluarga dari total 195 KK yang selama 65 tahun terkendala hak atas tanah seluas kurang lebih 5 hektare di Jalan Cirendeu Indah I, RT 04/01 Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat Timur, kini resmi diterima oleh Rendy, Kasi Sengketa Tanah ATR/BPN Tangsel, serta dihadiri langsung Kepala Kantor ATR/BPN Tangerang Selatan Dr. Seto Apriyadi, S.E., M.M.
“Keadilan tanah rakyat harus ditegakkan. Apa yang kami lakukan hari ini adalah bukti bahwa perjuangan tak akan mengkhianati hasil. 65 tahun adalah waktu yang sangat lama, namun hari ini pintu harapan akhirnya terbuka,” tegas Dr. Bernard BBBBI Siagian didampingi Suparno, Ny. Helena Sidabutar, Marcel Gerungan S.H., M.H., H. Odang, Sugito, Budi, dan Erte Mbih.
MENJADI ANAK BANGSA: PERJUANGAN YANG TAK USAI
Bersamaan dengan persiapan peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81, GAKORPAN melalui Rumah Doa #Milkha & Merah Putih 08 Pers menggelar diskusi interaktif kebangsaan bertema “Kita Berproses Menjadi Anak Bangsa”.
Dalam paparannya, disampaikan bahwa kemerdekaan yang diraih para pendahulu—mulai dari Jenderal Soedirman, Legiun Veteran RI, Angkatan 45, hingga para pejuang yang merebut nusantara dari penjajahan 3,5 abad—bukanlah hadiah cuma-cuma. Merdeka atau mati adalah bukti darah dan air mata yang tak boleh dilupakan begitu saja.
“Menjadi anak bangsa bukan status otomatis saat kita lahir atau mengucapkan janji setia. Ini adalah proses seumur hidup, perjuangan spiritual dan moral untuk kembali pada jati diri bangsa yang luhur,” tegas narasi kebangsaan yang disampaikan.
BANGKIT DARI KERUSAKAN, MENJADI INDONESIA EMAS
Diskusi juga menyoroti kerusakan yang terjadi akibat keserakahan segelintir pihak: perusakan lingkungan, penyerobotan tanah, penebangan liar, hingga praktik korupsi yang memicu bencana alam dan kemiskinan. Hal ini dinilai melenceng jauh dari nilai Pancasila dan cita-cita pendiri bangsa.
“Kita berhadapan dengan tantangan global, perang bintang, hingga ancaman yang mengintai. Program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto adalah terobosan untuk menyelamatkan bangsa dari keterpurukan. Namun kesuksesannya tak akan terjadi jika hati dan pikiran kita masih tercemar pola pikir duniawi dan konsumtif,” ujar Dr. Bernard.
Ditekankan pula, melalui iman, taqwa, dan pembaruan hati yang sejati—disebut sebagai “kelahiran baru” atau penciptaan ulang karakter bangsa—kita akan mampu kembali pada rancangan semula. Menjadi bangsa yang berdaulat, adil, makmur, dan kembali memancarkan sinar kemuliaan sebagai Nusantara yang elok.
“Jangan berhenti sekadar percaya, tapi serahkan totalitas diri untuk digarap dan dibimbing oleh Yang Maha Kuasa. Agar saat kita merayakan kemerdekaan ke-81 ini, kita benar-benar menjadi anak bangsa yang nyata, bukan sekadar label kosong demi mewujudkan Indonesia Emas 2045,” tutupnya.
(TIM INVESTIGASI GAKORPAN & MERAH PUTIH PERS)
