Suaraakademis.com.|Lampung – Ketua DPD Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Provinsi Lampung, Husin Muchtar, menilai buku “Ijazah Jokowi: Pertaruhan Moralitas Bangsa dan Refleksi Kejujuran (Sebuah Renungan Filosofis)” karya Wilson Lalengke layak dibaca oleh berbagai kalangan masyarakat sebagai bahan refleksi kritis mengenai nilai kejujuran, integritas, dan moralitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurut Husin Muchtar, buku tersebut tidak semata-mata membahas sosok atau polemik yang berkembang di ruang publik, melainkan mengajak pembaca untuk merenungkan pentingnya kejujuran sebagai fondasi utama dalam membangun kepercayaan sosial dan kualitas demokrasi.
“Buku ini perlu dibaca secara objektif dan terbuka. Terlepas dari berbagai pandangan yang mungkin muncul, substansi yang terpenting adalah bagaimana masyarakat diajak berpikir kritis tentang nilai kejujuran, tanggung jawab moral, dan etika dalam kehidupan publik,” ujar Husin Muchtar.
Ia menambahkan bahwa literasi publik yang sehat harus memberi ruang bagi perbedaan pandangan, selama disampaikan secara argumentatif, beradab, dan berdasarkan prinsip-prinsip hukum yang berlaku.
Dalam konteks tersebut, Husin mengingatkan bahwa bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh kemajuan ekonomi dan teknologi, tetapi juga oleh karakter moral para pemimpin serta warganya.
Kejujuran sebagai Pilar Peradaban
Tema yang diangkat dalam buku karya Wilson Lalengke tersebut sejatinya menyentuh persoalan universal yang telah menjadi perhatian para filsuf dunia sejak zaman klasik hingga modern.
Filsuf Yunani kuno, , pernah menegaskan bahwa kehidupan yang baik harus dijalani dengan kesadaran moral dan pencarian kebenaran. Gagasannya yang terkenal, “The unexamined life is not worth living” (hidup yang tidak direfleksikan tidak layak dijalani), mengajarkan pentingnya evaluasi diri dan keberanian mempertanyakan berbagai persoalan publik secara kritis.
Sementara itu, berpendapat bahwa kejujuran merupakan kewajiban moral yang tidak boleh dikorbankan demi kepentingan sesaat. Dalam pandangan Kant, kebenaran adalah prinsip etis yang harus dijunjung tinggi karena menjadi dasar penghormatan terhadap martabat manusia.
Pemikir Tiongkok kuno, , juga menekankan pentingnya integritas dalam kepemimpinan. Ia menyatakan bahwa seorang pemimpin yang memiliki kebajikan akan lebih mudah memperoleh kepercayaan rakyat dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan kekuasaan.
Hal senada pernah disampaikan yang menyebut bahwa kebenaran dan kejujuran merupakan kekuatan moral terbesar dalam membangun masyarakat yang adil dan beradab.
Mendorong Budaya Diskusi yang Sehat
Husin Muchtar menegaskan bahwa keberadaan buku-buku yang mengangkat isu sosial, politik, maupun moral harus ditempatkan dalam kerangka kebebasan berpikir dan tradisi intelektual yang sehat.
Menurutnya, masyarakat perlu membiasakan diri membaca secara utuh sebelum membentuk kesimpulan terhadap suatu karya. Sikap tersebut penting agar ruang publik tidak dipenuhi prasangka, melainkan argumentasi yang rasional dan bertanggung jawab.
“Membaca tidak selalu berarti harus setuju dengan seluruh isi buku. Namun membaca memberikan kesempatan kepada kita untuk memahami sudut pandang yang berbeda dan memperkaya wawasan dalam melihat suatu persoalan,” katanya.
Ia berharap masyarakat dapat menjadikan buku sebagai sarana pendidikan moral dan intelektual, sekaligus memperkuat budaya dialog yang santun di tengah dinamika demokrasi yang terus berkembang.
Refleksi bagi Kehidupan Berbangsa
Pada akhirnya, perdebatan mengenai berbagai isu publik hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai kejujuran, transparansi, dan akuntabilitas.
Sebagaimana dikemukakan filsuf Prancis , pencarian kebenaran memerlukan keberanian untuk berpikir dan berdiskusi secara terbuka. Sementara mengingatkan bahwa karakter yang baik dibentuk melalui kebiasaan melakukan tindakan yang benar secara konsisten.
Karena itu, buku “Ijazah Jokowi” dapat dipandang bukan hanya sebagai sebuah karya yang mengangkat isu aktual, tetapi juga sebagai undangan untuk merenungkan kembali nilai-nilai moral yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa. Dengan semangat keterbukaan, literasi, dan penghormatan terhadap fakta, masyarakat diharapkan mampu membangun ruang diskusi yang sehat demi kemajuan demokrasi dan peradaban Indonesia. (Tim/Red)
