Wilson Lalengke: Hukum Harus Tegas Tanpa Kompromi, Darah Sipil Tak Boleh Terus Tumpah
Suaraakademis.com.|jakarta – Wajah asli kelompok yang mengatasnamakan OPM kini telanjang bulat. Pembantaian tiga warga sipil tak berdosa—sepasang suami istri dan seorang wanita asli Papua—di Yahukimo, Papua Pegunungan, bukan lagi perjuangan, melainkan aksi terorisme biadab. Mereka menembak mati saudara sebangsa dengan tuduhan sepihak sebagai mata-mata, alibi usang yang selalu dipakai untuk menghalalkan darah rakyat.
Kejadian ini memancing amarah tajam dari aktivis kemanusiaan sekaligus Alumnus PPRA-48 Lemhannas RI, Wilson Lalengke. Pria yang memiliki ikatan darah dan kekeluargaan erat dengan tanah Papua lewat kerabatnya bersuku Gombo menegaskan:
“Perbuatan ini sama persis dengan ISIS! ISIS bunuh sesama muslim dengan tuduhan murtad, OPM bunuh sesama orang Papua dengan tuduhan intelijen. Ini bukan perjuangan, ini kebiadaban tanpa nurani!”
HIPOKRISI DI BALIK NAMA KEMERDEKAAN
Wilson menegaskan ia tetap menghargai cita-cita luhur keadilan bagi Papua. Namun, membunuh rakyat yang tak berdaya hanya karena beda pandangan adalah runtuhnya moral sepenuhnya.
“Kalian mengaku pejuang hak rakyat, tapi yang kalian bunuh justru rakyat sendiri. Itu kemunafikan yang paling menjijikkan,” tegasnya.
Mengutip pemikiran filsuf Thomas Hobbes: Manusia menjadi serigala bagi manusia lain. Ketika rasa persaudaraan dan nilai adat dibuang, manusia bertindak lebih buas dari binatang. Begitu pula pandangan Immanuel Kant: nyawa manusia adalah tujuan, bukan alat politik. OPM menjadikan nyawa warga hanya sebagai alat menyebar ketakutan. Fenomena ini sejalan pemikiran Hannah Arendt: kejahatan menjadi biasa karena pelakunya sudah mati rasa berempati.
DESAK TEGAKKAN HUKUM TANPA RAGU
Wilson Lalengke yang juga Ketua Umum PPWI mendesak pemerintah, TNI, dan Polri hentikan pendekatan setengah hati.
“Jangan lagi kompromi dengan pembunuh warga sipil. Usut tuntas, tangkap seluruh komplotan, dan jatuhkan hukuman maksimal sesuai UU Terorisme dan Pembunuhan Berencana. Negara tidak boleh kalah oleh kelompok yang menindas rakyatnya sendiri!”
Duka keluarga korban adalah duka seluruh bangsa. Tidak ada alasan politik, adat, atau agama yang bisa membenarkan peluru menembus dada orang tak bersalah. Tegakkan hukum seberat-beratnya—agar tidak ada lagi darah yang terbuang sia-sia di Tanah Cenderawasih.
CATATAN REDAKSI
Berita ini disusun berdasarkan fakta peristiwa dan pernyataan resmi pihak terkait. Pihak kelompok maupun pihak lain berhak memberikan tanggapan paling lambat 3 x 24 jam untuk dimuat secara berimbang sesuai Kode Etik Jurnalistik.(Tim/ayu/Red)
