Kajian Risiko Kesehatan & Pertanian Jadi Sorotan, Pihak Pengelola Menolak Dikonfirmasi
Suaraakademis.com.|Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat – Menyikapi peringatan dini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sulawesi Barat mengenai datangnya musim kemarau panjang, Pemerintah Kabupaten Mamasa menggelar audensi khusus rencana pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) Daerah Aliran Sungai Mamasa bekerja sama dengan PLTA Bakaru. Kegiatan berlangsung di Ruang Pola Kantor Bupati Mamasa, Rabu (15/7/2026).
Pertemuan dipimpin langsung Bupati Mamasa Welem Sambolangi, dihadiri jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, unsur Forkopimda, serta perwakilan akademisi. Kehadiran para pemangku kepentingan ini dinilai krusial guna menyatukan persepsi dan menyusun strategi sosialisasi yang transparan kepada masyarakat.
Berdasarkan data analisis BMKG, wilayah Mamasa telah memasuki awal musim kemarau sejak akhir Juni hingga pertengahan Juli, dengan durasi berkisar 2,5 hingga 4 bulan. Puncak kekeringan diprediksi terjadi pada Agustus 2026. Pihak PLTA Bakaru menyampaikan kekhawatiran debit air yang tidak mencukupi untuk pasokan energi, sehingga rencana OMC diarahkan ke titik tertentu, yakni Kecamatan Sumarorong, yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026.
TEGAS BUPATI: KEUNTUNGAN HARUS JELAS, RISIKO TIDAK BOLEH DIABAIKAN
Dalam arahannya, Bupati Welem menegaskan dukungan pemerintah demi kepentingan rakyat, namun menekankan perencanaan harus matang dan berhati-hati.
“Pemerintah mendukung hal demi kepentingan masyarakat, namun ini harus didiskusikan matang agar tidak merugikan masyarakat dan alam Mamasa. Perlu kesatuan persepsi soal manfaat, dampak, risiko, dan siapa yang bertanggung jawab. Masyarakat tidak boleh dirugikan, lingkungan tidak boleh dirusak, dan Mamasa harus menerima manfaat nyata,” tegas Welem.
Ia menuntut tim kerja yang dibentuk tidak sekadar formalitas, melainkan turun langsung ke lapangan.
“Saya minta tim dari OPD terkait bekerja sungguh-sungguh. Sosialisasikan secara jujur dampak positif dan negatifnya, serta apa yang benar-benar akan didapat masyarakat,” tambahnya.
AKADEMISI PERINGATKAN DAMPAK SOSIAL & PERTANIAN
Perwakilan akademisi Universitas Muhammadiyah, Sudirman, S.T., M.M., mengingatkan aspek yang tak boleh diabaikan.
“OMC berpotensi menimbulkan dampak negatif, baik bagi kesehatan masyarakat maupun pertumbuhan tanaman petani. Saya berharap upaya meminimalkan risiko ini benar-benar diperhatikan,” ujar Sudirman.
Peringatan ini menjadi penting mengingat sebagian besar warga Mamasa menggantungkan hidup pada sektor pertanian.
TIDAK TERBUKA: PIHAK PLTA BAKARU TOLAK BICARA
Menanggapi berbagai catatan kritis terkait dampak yang dikemukakan dalam forum, awak media berupaya meminta tanggapan resmi dan penjelasan dari pihak PLTA Bakaru. Namun upaya tersebut ditolak tegas.
Direktur Manajemen PLTA Bakaru, Yan Suprayogi, hanya menyatakan singkat: “Kami tidak menerima wawancara, maaf.”
Sikap tertutup ini menimbulkan pertanyaan publik mengingat peran sentral PLTA Bakaru dalam usulan kegiatan ini serta pentingnya keterbukaan informasi terkait dampak yang mungkin ditimbulkan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak media masih terus berupaya mengupayakan penjelasan lebih lanjut demi kelengkapan informasi yang berimbang.
Catatan Redaksi: Pemberitaan ini disusun berdasarkan pemantauan langsung dan pernyataan pihak yang hadir. Redaksi telah mengupayakan konfirmasi kepada pihak PLTA Bakaru namun belum mendapatkan tanggapan. Ruang hak jawab tetap terbuka seluas-luasnya. Asas kehati-hatian dan praduga tak bersalah berlaku sepenuhnya.(Sumber Welson/ ayu)
