Suaraakademis.com.|Jakarta — Waktu memiliki cara unik untuk menyaring nilai dari setiap upaya manusia. Ketika hal-hal yang bersifat materi berganti dan institusi bertransformasi mengikuti zaman, dampak dari pengabdian yang tulus justru sering kali tetap hidup dan dikenang melintasi generasi.
Pemahaman mendalam itu terasa nyata saat Wilson Lalengke genap berusia 61 tahun, Jumat (3/7/2026). Di hari ulang tahunnya ini, ia menerima sebuah “kado” yang tak ternilai harganya: bukti bahwa jejak perjuangannya di bidang pendidikan masih tersimpan rapi dan dihargai, seperempat abad setelahnya.
Dokumen Lama yang Kembali Menemukan Waktu
Kejutan itu datang dari Bang Elthaf, alumni senior Universitas Riau berusia 65 tahun, yang menghubunginya setelah menemukan kembali artikel lama yang ditulis Wilson Lalengke. Tulisan tersebut dimuat di buletin bulanan Warta Caltex Nomor 65 Tahun 2001, rubrik “Caltex Cares”, dengan judul: “SMU Plus of Riau Province: Cracking The Road to Excellence”.
Artikel itu merekam perjalanan penuh tantangan dalam mendirikan SMU Plus Provinsi Riau, sekolah unggulan yang digagas untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Riau. Dalam tulisannya, Wilson menggambarkan perjuangan merintis sekolah itu dari kondisi yang serba terbatas—bahkan sempat diberitakan media lokal dengan judul “Sekolah Plus Ala Riau, Gedung Minjam Kasek Merangkap”.
Dokumen itu juga menyertakan foto bersejarah: cara mengajar Wilson yang maju pada masanya, mengajak siswa belajar di luar ruangan, di bawah pepohonan, guna memecahkan kekakuan kelas dan mendekatkan siswa pada realitas masyarakat.
Bukti yang Tak Terhapus Zaman
Mendapati rekam jejak masa lalunya kembali hadir, Wilson mengaku sangat terharu dan takjub. Ia menyampaikan kebahagiaannya mengetahui bahwa tulisan dan perjuangannya puluhan tahun silam kini dibaca dan diapresiasi oleh orang yang bahkan tidak ia kenal secara pribadi.
Kisah ini menjadi makin bermakna seiring fakta bahwa PT Caltex Pacific Indonesia, penerbit buletin tersebut, kini telah bertransformasi dan tidak lagi beroperasi seperti dulu. Meski perusahaan dan kertas fisik dokumen itu mungkin telah berubah, namun nilai serta jejak pengabdian di bidang pendidikan tetap hidup di tengah masyarakat.
Renungan: Hidup yang Bermakna Melampaui Waktu
Peristiwa ini mengajak merenungkan makna warisan dan waktu. Filsuf Romawi Seneca pernah menulis: “Hidup itu panjang jika engkau tahu bagaimana cara menggunakannya.” Masa muda Wilson Lalengke dihabiskan bukan untuk hal yang sia-sia, melainkan diabdikan demi masa depan generasi penerus.
Fakta berubahnya perusahaan besar mengingatkan pada prinsip ketidakkekalan: segala sesuatu yang bersifat fisik dan institusi pasti berubah seiring berjalannya waktu. Namun, dedikasi yang tulus—seperti perjuangan mengurus proposal pendirian sekolah hingga berkeliling demi dukungan—telah melahirkan manfaat yang dirasakan ribuan siswa hingga kini.
Pesan yang datang tepat di hari ulang tahunnya menjadi bukti bahwa kebaikan dan kontribusi nyata memiliki cara sendiri untuk terus hidup. Meski hal besar bisa berakhir, cahaya yang dinyalakan demi kemajuan pendidikan akan terus bersinar menembus waktu.
Terima kasih khusus disampaikan kepada Bang Elthaf atas perhatian dan kebaikan yang telah menghadirkan kembali sejarah ini.
