Oleh: Novita Sari Yahya
Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan
Pramoedya Ananta Toer pernah berkata, “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Kalimat sederhana ini mengandung kebenaran yang begitu dalam: menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan cara manusia membuktikan keberadaannya melampaui masa. Di tengah riuh dunia yang gemar memuja kehadiran sesaat, pesan ini menjadi peringatan sekaligus panggilan yang mendesak.
Kalimat ini terasa semakin penting untuk direnungkan, terutama oleh perempuan Indonesia. Ketika kita memperoleh penghasilan, terbentang di hadapan kita beragam pilihan: membelanjakannya untuk pakaian bermerek, tas, kendaraan mewah, perhiasan yang berkilau, atau sesuatu yang jauh lebih berharga sesuatu yang mampu meninggalkan jejak pemikiran, warisan batin, dan manfaat yang tak akan pudar dimakan waktu.
Saya memilih jalan yang kedua. Dengan penghasilan saya yang jauh dari berlimpah, saya memilih untuk menulis dan menerbitkan buku. Akun media sosial saya pun lebih banyak berisi karya daripada sekadar potret diri atau rutinitas harian. Bukan karena saya tidak memiliki kehidupan, bukan karena saya tidak pernah beraktivitas atau bersenang-senang melainkan karena saya percaya: eksistensi tidak harus selalu dipamerkan agar tetap nyata. Nilai seseorang tidak diukur dari seberapa sering wajahnya muncul di layar gawai orang lain, melainkan dari seberapa besar manfaat yang ia berikan bagi sesama.
Saya sering merenungkan satu pertanyaan yang sederhana namun tajam: manakah yang lebih narsis orang yang terus-menerus memajang penampilan, berfoto di setiap sudut acara meskipun hanya hadir sebagai undangan, atau orang yang memilih memperlihatkan karya yang benar-benar lahir dari pemikiran, keringat, dan ketekunannya sendiri?
Bagi saya, menghadiri rapat bukanlah karya. Hadir dalam peresmian bukanlah karya. Berpidato pun belum tentu menjadi karya apalagi jika naskah yang dibacakan ditulis oleh orang lain. Foto yang diambil di sebuah acara hanyalah bukti kehadiran, bukan bukti kemampuan. Itu sekadar jejak kaki yang akan hilang seiring berjalannya waktu.
Karya adalah sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kehadiran. Karya adalah hasil dialektika pemikiran yang mendalam, perenungan yang panjang, dan kerja keras yang tak kenal lelah. Karya adalah sesuatu yang kita lahirkan dari kesadaran, tuliskan dengan ketulusan, teliti dengan ketekunan, dan hasilkan sehingga dapat dibaca, dipelajari, dihayati, serta diwariskan kepada generasi-generasi yang belum lahir. Karya itu hidup.
Janganlah kita terlalu sibuk mengejar eksistensi sesaat hingga lupa untuk menghasilkan sesuatu yang abadi. Jangan sampai keinginan untuk dilihat, diakui, dan dipuji membuat kita lebih sibuk memamerkan kehadiran daripada membuktikan kemampuan. Jangan biarkan narsisme menutup mata kita dari hakikat sejati kehidupan: bahwa kita ada bukan untuk dilihat, tetapi untuk memberi.
Foto akan tenggelam di lautan unggahan media sosial. Acara yang megah akan berakhir. Panggung yang gemerlap akan dibongkar. Keramaian akan lenyap. Namun, buku dan gagasan yang lahir dari kejujuran pikiran akan terus hidup, berbicara, dan memberi manfaat bahkan ketika kita sendiri sudah tiada.
Sebelum menunjuk kelemahan orang lain, marilah kita bercermin terlebih dahulu. Sebab satu jari kita menunjuk ke depan, sementara empat jari lainnya justru menunjuk kepada diri sendiri. Mari kita mulai dari diri sendiri, sebelum menuntut orang lain untuk berbuat lebih baik.
Pada akhirnya, yang benar-benar penting bukanlah seberapa sering kita terlihat di mana-mana melainkan apa yang mampu kita tinggalkan untuk dunia, untuk sesama, dan untuk sejarah. Itulah keabadian yang sesungguhnya.