Kisah Muhammad Ja’far Hasibuan: Jual Roti Demi Sekolah, Karyanya Diresmikan Kapolri & Direkomendasikan S3 Harvard
Suaraakademis.com.|Jakarta , 14 Agustus 2026 — Satu lagi bukti nyata bahwa kemiskinan bukan penghalang meraih prestasi dunia. Muhammad Ja’far Hasibuan, anak yatim dari desa terpencil Padang Lawas Utara yang merantau bermodal hanya Rp70.000, kini namanya mengharumkan nama bangsa di kancah akademik internasional.
Mahasiswa Magister Gizi Kesehatan Masyarakat FKM USU ini resmi meluncurkan buku bertaraf internasional berjudul “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia” di Aula G FKM UI, Sabtu lalu. Kegiatan yang dihadiri ribuan peserta luring dan daring ini mendapat dukungan penuh Perpustakaan Nasional, IKAPI, Kemenpora RI, serta diresmikan atas nama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
TEKAD MENGALAHKAN KETERBATASAN
Di tengah keterbatasan ekonomi, Ja’far tak berhenti berjuang. Sela-sela waktu kuliah ia isi dengan menjajakan roti untuk menyambung hidup. Namun di balik perjuangan itu, ia berhasil melahirkan inovasi Biofar SS yang bermanfaat bagi kesehatan masyarakat, yang bahkan ia bagikan secara cuma-cuma.
“Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Segala ilmu yang saya dapat saya tujukan untuk membantu mereka yang sulit terjangkau layanan,” ujar Ja’far, penerima Beasiswa Kapolri yang sangat menjaga amanah tersebut.
BUKU BUKTIKAN PERPADUAN HIDUP DAN ILMU
Karya setebal lebih dari 400 halaman ini bukan sekadar kisah inspirasi, melainkan rujukan ilmiah yang memuat lebih dari 200 referensi penelitian. Guru Besar FKM UI, Prof. dr. Adang Bachtiar, M.P.H., D.Sc., bahkan secara khusus merekomendasikan Ja’far untuk melanjutkan studi doktoral di Universitas Harvard.
Apresiasi pun melintas batas negara: “Buku Anda tampak sangat menarik! Saya ingin memperkenalkannya kepada komunitas pembaca saya,” tulis salah satu pembaca dari luar negeri.
IKON PEMUDA DAN KEBANGGAAN BERSAMA
Kemenpora RI menetapkan Muhammad Ja’far Hasibuan sebagai Ikon Pemuda Resmi, sedangkan Perpusnas menetapkan bukunya sebagai koleksi referensi nasional. Kisah ini menjadi hadiah kemerdekaan yang sangat berharga: bukti bahwa kerja keras, integritas, dan doa akan selalu mengalahkan segala keterbatasan.
(MEGY / TIM LIPUTAN)