Suaraakademis.com | Kabupaten Mamasa — Di tengah kemeriahan peringatan Hari Bhayangkara ke-80 dan penganugerahan The Hoegeng Award di tingkat pusat, suara kekecewaan tajam justru datang dari Sulawesi Barat. Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Teknik Informatika dan Sistem Informasi Sulawesi Barat (GMTSI), Rendi, menyampaikan ucapan selamat sekaligus pesan keras: jangan hanya sibuk seremonial, buktikan kinerja nyata dengan menuntaskan kasus yang mengganjal di hati masyarakat.
“Selamat Hari Bhayangkara. Semoga Polri semakin profesional dan menjaga kepercayaan rakyat. Namun di momen refleksi ini, kami berharap Polda Sulawesi Barat segera menuntaskan berbagai kasus yang masih menjadi tanda tanya besar,” tegas Rendi saat ditemui perwakilan media SuaraAkademis, Rabu (1/7/2026).
Sorotan utama ditujukan pada kasus pembunuhan pasangan suami istri di Kecamatan Aralle, Kabupaten Mamasa yang terjadi sejak tahun 2022. Hingga kini, empat tahun berlalu namun belum ada kejelasan siapa pelakunya dan bagaimana perkembangan penyelidikan.
“Kami mempertanyakan sejauh mana langkah yang sudah diambil. Mengapa kasus berat seperti ini seolah menghilang tanpa jejak? Masyarakat berhak tahu, keluarga korban berhak mendapatkan keadilan,” ujarnya dengan nada kecewa.
Kondisi yang tidak kunjung terang ini dinilai memicu keresahan mendalam di tengah masyarakat. Rendi meminta Polda Sulbar segera membuka kembali berkas perkara, memperdalam penyelidikan, dan bersikap transparan memaparkan kendala maupun langkah selanjutnya.
Pihaknya tidak akan tinggal diam. “Jika tidak ada langkah konkret segera, kami siap menggelar aksi damai di depan Polda Sulbar dan membawa aspirasi ini sampai ke Mabes Polri. Tujuan kami satu: kepastian hukum harus ditegakkan, tidak boleh ada kasus yang dibiarkan berlari di tempat,” ancam Rendi.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi maupun tanggapan dari pihak Polda Sulawesi Barat terkait desakan pembukaan kembali kasus tersebut.(Ayu)
