Oplus_131072
Pengamat: Presiden Sengaja Biarkan Masalah Muncul, Lalu Turun Tangan Sebagai Penyelamat – “Berhasil Naik Pangkat, Gagal Siap-Siap Dipecat”
Suaraakademis.com.|Jakarta – Analisis tajam terkait gaya kepemimpinan dan strategi politik Presiden Prabowo Subianto dalam menjalankan program-program unggulannya diungkapkan oleh Pengamat Politik yang juga mantan Anggota DPD RI periode 2014-2024, Dr. Fachrul Razi. Menurutnya, terdapat pola dan skenario politik yang sangat terukur diterapkan Presiden Prabowo, khususnya dalam menjaga keberlangsungan program populis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, hingga Koperasi Merah Putih.
Fachrul Razi menilai, ada kecenderungan kuat bahwa Presiden sengaja membiarkan dinamika, persoalan, maupun kekurangan dalam tata kelola muncul terlebih dahulu pada fase awal implementasi. Tujuannya bukan membiarkan kerusakan terjadi, melainkan sebagai panggung agar beliau dapat turun tangan secara langsung berperan sebagai “penyelamat” sekaligus penegak aturan. Langkah ini dinilai tidak terlepas dari strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi politik dan meraih simpati publik yang lebih luas menjelang Pemilihan Presiden tahun 2029 mendatang.
“Keberhasilan dan kegagalan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta program lainnya sangat menentukan elektabilitas Prabowo di tahun 2029 nanti. Beliau paham betul bagaimana menciptakan popularitas lewat isu dan kebijakan yang disukai rakyat. Fokus utamanya saat ini adalah memastikan aksi dan implementasi program-program populis tersebut benar-benar berjalan di lapangan, terlepas dari adanya kekurangan dalam tata kelola di awal,” ungkap Fachrul Razi dalam sebuah tayangan podcast, Selasa (3/6/2026).
Masalah di Lapangan Justru Jadi Peluang Politik
Lebih jauh, Fachrul menjelaskan pandangannya bahwa munculnya dinamika negatif, keluhan, hingga kasus dugaan penyalahgunaan anggaran atau penyelewengan di lapangan justru menjadi momentum politik yang menguntungkan bagi Presiden Prabowo. Dalam skenario yang dibangun, masalah-masalah tersebut akan dijadikan alasan bagi Presiden untuk menegaskan otoritasnya.
“Ketika muncul masalah di lapangan—misalnya persoalan dalam penyaluran MBG atau manajemen Koperasi Merah Putih—beliau akan memosisikan diri sebagai eksekutor utama yang datang untuk membereskan kekacauan tersebut. Di momen itulah, beliau akan melibatkan aparat penegak hukum, mulai dari Kejaksaan, Kepolisian, hingga TNI, untuk menindak tegas siapa saja oknum yang terbukti merusak program yang ditujukan bagi rakyat,” jelas Fachrul.
Strategi kepemimpinan yang kuat atau the strong leadership ini, menurutnya, sengaja dibangun untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa Presiden berdiri kokoh sebagai pembela hak-hak rakyat, bahkan berani menindak mereka yang berada di lingkaran kekuasaan atau orang-orang yang dipercayainya.
“Presiden memiliki informasi intelijen yang sangat kuat. Banyak elemen pendukung beliau tersebar di berbagai sektor pemerintahan, sehingga apa yang terjadi di bawah sana sangat terpantau. Strategi ini dirancang agar publik melihat bahwa Prabowo adalah pemimpin yang hadir untuk meluruskan hal-hal yang bengkok,” tambahnya.
Ukuran Keberhasilan: Karir Cemerlang atau Dipecat Seketika
Dalam analisisnya, Fachrul Razi juga menyoroti pola penempatan dan perlakuan terhadap para pejabat atau pelaksana program yang dipercaya oleh Istana. Ia menegaskan bahwa Presiden menerapkan standar yang sangat tegas dan jelas: prestasi adalah kunci, dan kegagalan tidak memiliki tempat.
“Sikap tegas ini akan menjadi pelajaran penting bagi siapa saja yang dipercaya Istana untuk menjalankan program strategis Prabowo. Aturannya sangat sederhana: jika berhasil menjalankan amanah, karir Anda akan melesat naik. Namun jika gagal atau terbukti merugikan program, bersiaplah untuk disingkirkan atau dipecat dalam seketika waktu tanpa ampun,” tegas Fachrul.
Meski strategi ini dinilai sangat cerdas dan berorientasi pada penguatan basis massa, Fachrul menggarisbawahi bahwa efektivitas skenario politik ini akan sangat bergantung pada hasil nyata di lapangan dan penilaian publik ke depannya.
“Kita lihat nanti hasilnya. Tujuannya tentu saja mengarah ke 2029. Apakah momentum penegakan hukum dan evaluasi tegas ini berhasil mendongkrak elektabilitas beliau atau tidak. Namun yang pasti, jika suatu kebijakan dinilai baik untuk kepentingan politik dan rakyat, beliau akan mengeksekusinya dengan sangat cepat dan taktis,” pungkas Dr. Fachrul Razi menutup analisisnya.
(Tim Redaksi)
