Suaraakademis.com.|Kupang, NTT — Gempa bumi dahsyat berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 05.58 Wita, menimbulkan dampak luar biasa yang memilukan. Berdasarkan laporan resmi Pusat Pengendalian Operasi (PUSDALOPS) BPBD Provinsi NTT per 17 Agustus 2026, 69 orang meninggal dunia, 331 orang luka-luka, lebih dari 35.541 jiwa mengungsi, dan sekitar 14.841 unit rumah mengalami kerusakan di delapan kabupaten yang terdampak. Senin, 17 Agustus 2026 — Pukul 22.00 Wita
Gempa berpusat di 30 km Timur Laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman 15 km ini mengguncang hampir seluruh wilayah Pulau Flores dan sekitarnya, memicu kepanikan luas serta kerusakan yang sangat besar di kabupaten-kabupaten yang paling merasakan getaran kuat.
KABUPATEN MANGGARAI — 26 MENINGGAL, 1.983 RUMAH RUSAK
Kabupaten Manggarai menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah. Sebanyak 26 orang meninggal dunia, 119 orang luka-luka (31 luka berat, 88 luka ringan), dan 6.487 orang mengungsi. Kerusakan rumah warga mencapai 1.983 unit — 1.597 rusak berat, 263 rusak sedang, dan 123 rusak ringan. Puluhan fasilitas kesehatan, pendidikan, dan pemerintahan juga rusak. Status tanggap darurat ditetapkan selama 90 hari, hingga 13 November 2026. Kebutuhan mendesak meliputi tenda, selimut, velbed, logistik kesehatan, dan peralatan dapur.
KABUPATEN MANGGARAI BARAT — 2 MENINGGAL, 3.493 ORANG MENGUNGSI
Di Manggarai Barat, 2 orang meninggal dunia — Siti Hawa (84 tahun) dan Hendrikus Gampur (37 tahun) — serta 21 orang luka-luka. Sebanyak 3.493 warga terpaksa mengungsi. Kerusakan rumah mencapai 3.493 unit dengan rincian 1.410 rusak berat, 635 sedang, dan 1.448 ringan. Juga terdampak 2 hotel, 4 jaringan air bersih, dan 2 jembatan. Status darurat berlaku 14 hari hingga 28 Agustus 2026.
KABUPATEN MANGGARAI TIMUR — 25 MENINGGAL, 15.567 JIWA MENGUNGSI
Kabupaten Manggarai Timur mencatat 25 orang meninggal dunia dan 84 orang luka-luka. Jumlah pengungsi mencapai 15.567 jiwa — terbanyak di seluruh wilayah terdampak. Sebanyak 3.355 rumah rusak, serta ratusan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan tempat ibadah ikut terdampak. Jalur strategis seperti Jalan Tengku Teang, Waekorok, dan Lembata mengalami kerusakan berat. Status darurat ditetapkan 14 hari hingga 28 Agustus 2026.
KABUPATEN ENDE — 2 MENINGGAL, 951 RUMAH RUSAK
Di Kabupaten Ende, 2 orang meninggal — Sisilia S. Payong (70 tahun) dan Susana Bunga (80 tahun) — serta 14 orang luka-luka. Kerusakan rumah mencapai 951 unit. Status darurat berlaku hingga 28 Agustus 2026.
KABUPATEN SIKKA — 4 MENINGGAL, RSUD RUSAK PARAH
Kabupaten Sikka mencatat 4 orang meninggal dunia, termasuk 3 korban tertimbun runtuhan RSUD dr. T.C. Hillers Maumere. Sebanyak 37 orang luka-luka dan 5.081 orang mengungsi. Puluhan rumah, fasilitas kesehatan, pendidikan, dan rumah ibadah rusak. Status darurat ditetapkan hingga 28 Agustus 2026.
KABUPATEN NGADA — 2 MENINGGAL, 2.839 RUMAH RUSAK
Di Ngada, 2 orang meninggal dan 34 orang luka-luka. Sebanyak 2.905 Kepala Keluarga mengungsi. Kerusakan rumah mencapai 2.839 unit di 12 kecamatan. Status darurat berlaku 30 hari hingga 15 September 2026.
KABUPATEN NAGEKEO — 8 MENINGGAL, 1.987 RUMAH RUSAK
Kabupaten Nagekeo, lokasi pusat gempa, mencatat 8 orang meninggal dunia dan 22 orang luka-luka. Sebanyak 2.008 orang mengungsi. Kerusakan rumah mencapai 1.987 unit. Status darurat ditetapkan selama 90 hari hingga 15 November 2026.
KABUPATEN SUMBA TIMUR — 5 RUMAH RUSAK
Gempa juga dirasakan hingga Sumba Timur. Belum ada laporan korban jiwa, namun 5 rumah warga dan 1 rumah ibadah dilaporkan rusak.
RINGKASAN TOTAL DAMPAK GEMPA M 7,7 NTT
Tabel
Kabupaten Meninggal Luka-luka Mengungsi Rumah Rusak
Manggarai 26 119 6.487 1.983
Manggarai Barat 2 21 3.493 3.493
Manggarai Timur 25 84 15.567 3.355
Ende 2 14 — 951
Sikka 4 37 5.081 227+
Ngada 2 34 2.905 KK 2.839
Nagekeo 8 22 2.008 1.987
Sumba Timur — — — 6
TOTAL 69 Orang 331 Orang 35.541+ Jiwa ~14.841 Unit
SEBAGIAN BESAR WILAYAH MASIH BERADA DALAM STATUS TANGGAP DARURAT
Hingga saat ini, hampir seluruh kabupaten terdampak masih menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana dengan rentang waktu 14 hingga 90 hari. Bantuan logistik, tenda, obat-obatan, dan perbaikan infrastruktur darurat terus didistribusikan. Namun kebutuhan masih sangat besar — ribuan warga masih bertempat tinggal di posko pengungsian dan belum bisa kembali ke rumah mereka.
Catatan Redaksi: Data di atas dirangkum dari laporan resmi PUSDALOPS BPBD Provinsi NTT per 17 Agustus 2026 pukul 22.00 Wita. Angka terus diperbarui seiring pendataan berlangsung di lapangan. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dan selalu mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang.(Redaksi)
(TIM REDAKSI)