LANGKAT |Suaraakademis.com— Kepedulian terhadap sesama ditunjukkan Gerakan Anak Muda Pangkalan Susu (AMPAS) dengan menyalurkan bantuan sembako kepada masyarakat terdampak banjir di Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Senin (12/10/2026).
Tak sekedar bergerak menggalang bantuan, AMPAS juga turun langsung ke lapangan untuk memastikan bantuan kemanusiaan disalurkan kepada warga yang membutuhkan. Di tengah musibah yang kembali melanda masyarakat, gerakan ini menjadi wujud solidaritas anak muda dan kepedulian sosial terhadap sesama.
Bantuan yang berhasil dihimpun berasal dari keluarga besar internal AMPAS serta masyarakat yang turut bersimpati terhadap kondisi warga terdampak banjir.
Dari penggalangan tersebut, terkumpul beras sebanyak 80 kilogram, mie instan 15 dus, telur 10 rak, gula 25 kilogram, minyak makan 20 kilogram, serta berbagai makanan ringan untuk anak-anak.
Bantuan tersebut disalurkan ke tiga titik, yakni Sei Mati, Kelurahan Pekan Besitang; Sidodadi, Desa Sekoci; dan Posko Masjid Raya Besitang.
### Kolaborasi Lintas Komunitas, Satukan Kepedulian untuk Besitang
Dalam perjalanan menyalurkan bantuan, AMPAS bertemu dengan sejumlah elemen masyarakat yang juga melakukan aksi kemanusiaan, yakni DPD LSM GMAS Langkat, Rumah Besar Content Creator Langkat, Team Perjuangan Juriah, dan Matondang 25.
Pertemuan tersebut berlanjut menjadi kolaborasi dengan menggabungkan semangat dan bantuan dari masing-masing kelompok untuk bersama-sama membantu masyarakat terdampak banjir.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap bencana tidak mengenal sekat organisasi maupun komunitas. Ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, kebersamaan menjadi kekuatan untuk meringankan beban mereka.
Ketua AMPAS, Raya Samosir, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Ia mengucapkan terima kasih kepada keluarga besar AMPAS, DPD LSM GMAS Langkat, Rumah Besar Content Creator Langkat, Team Perjuangan Juriah, Matondang 25, serta masyarakat yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu korban banjir.
“Semoga bantuan yang kita salurkan ini menjadi berkat bagi saudara-saudara kita yang sedang menghadapi musibah. Saya berharap Tuhan membalas segala kebaikan seluruh pihak yang terlibat dengan kesehatan, keberkahan, dan kesempatan untuk terus memberikan manfaat bagi orang lain,” ujar Raya.
### Banjir Berulang, Raya Samosir: Jangan Hanya Sibuk Menangani Dampak
Di balik aksi kemanusiaan tersebut, Raya Samosir turut menyampaikan sorotan serius terhadap persoalan banjir di Kecamatan Besitang yang terus berulang.
Menurut pengamatannya, banjir yang terjadi setiap tahun, bahkan berulang kali dalam kurun waktu satu tahun di Desa Sekoci, seharusnya menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan.
Ia menegaskan, bantuan sembako memang sangat dibutuhkan masyarakat ketika bencana terjadi. Namun, penanganan bencana tidak boleh berhenti pada bantuan darurat tanpa disertai upaya nyata untuk mengurangi risiko kejadian serupa di masa mendatang.
“Bantuan sembako itu penting karena masyarakat membutuhkan pertolongan saat banjir terjadi. Tetapi, ada persoalan yang jauh lebih besar untuk kita pikirkan bersama, yaitu bagaimana caranya agar masyarakat tidak terus-menerus menjadi korban banjir,” tegasnya.
Raya menilai, banjir yang terus berulang harus menjadi pekerjaan rumah bersama, terutama bagi pemerintah di tingkat pusat dan daerah serta lembaga legislatif yang memiliki peran dalam pengawasan dan penganggaran.
Menurutnya, diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi wilayah hulu dan hilir, termasuk tutupan hutan, kondisi daerah aliran sungai, serta kemungkinan pendangkalan sungai yang dapat memengaruhi kapasitas tampung air.
“Periksa hulunya, evaluasi hilirnya. Jika tutupan hutan mengalami kerusakan, penghijauan harus menjadi perhatian. Jika terjadi pendangkalan sungai, perlu dilakukan kajian dan penanganan yang tepat. Jangan sampai masyarakat terus menghadapi persoalan yang sama setiap tahun tanpa solusi yang benar-benar menyentuh akar masalah,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah melakukan kajian teknis secara menyeluruh untuk mengidentifikasi penyebab banjir, menyusun langkah pencegahan, serta memastikan program penanganan dilaksanakan secara terencana dan berkelanjutan.
Bagi Raya, persoalan banjir bukan semata-mata tentang bagaimana menolong masyarakat setelah air menggenangi permukiman, melainkan juga tentang bagaimana memastikan masyarakat dapat hidup lebih aman tanpa dihantui bencana yang terus berulang.
### Perjuangkan Masa Depan, Bukan Sekadar Bertahan dari Banjir
Menutup keterangannya, Raya Samosir mengajak masyarakat Besitang agar tetap tabah menghadapi musibah sekaligus membangun semangat kebersamaan untuk memperjuangkan perubahan.
Ia berharap masyarakat, organisasi kepemudaan, komunitas, dan seluruh elemen lainnya dapat bersatu menyuarakan kebutuhan akan penanganan banjir yang berorientasi pada solusi jangka panjang.
Menurutnya, bantuan pascabencana dan jaminan hidup (Jadup) tetap penting sesuai kebutuhan masyarakat. Namun, upaya tersebut perlu berjalan beriringan dengan program pencegahan agar warga tidak terus-menerus berada dalam siklus terdampak bencana, menerima bantuan, lalu kembali menghadapi banjir.
“Harapan saya, masyarakat Besitang tetap sabar dan kuat. Mari kita bergandengan tangan, bersatu menyuarakan persoalan ini, dan bersama-sama memperjuangkan solusi agar banjir tidak terus berulang. Jangan hanya memikirkan bagaimana masyarakat bertahan setelah banjir, tetapi pikirkan juga bagaimana anak cucu kita ke depan bisa hidup lebih aman dan tidak terus mengalami musibah yang sama,” tutup Raya.
Aksi kemanusiaan AMPAS menjadi pengingat bahwa solidaritas masyarakat memiliki peran penting dalam membantu sesama di tengah bencana. Namun, persoalan banjir Besitang juga membutuhkan perhatian serius, kajian yang tepat, dan komitmen berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan.
Sebab, membantu korban banjir adalah panggilan kemanusiaan. Namun, memperjuangkan agar banjir tidak terus berulang adalah tanggung jawab bersama demi masa depan masyarakat Besitang.
AA