Suaraakademis.com.|Bekasi – Nasib Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kota Bekasi terasa begitu getir. Sekadar untuk bertahan hidup saja sudah berat penghasilan tidak menentu, kerap berbagi pangan demi anak, dan yang paling perih: terus diusir setiap kali ada acara pemerintah. Mereka bukan meminta kekayaan, hanya satu hal sederhana: diakui sebagai manusia, bukan gangguan yang harus disingkirkan. ( 7 September 2026)
Tidak punya uang ongkos pulang berjalan kaki bersama anak demi berhemat
Seorang ibu pedagang menceritakan getirnya hidup berdagang di kota ini. Ia pernah tidak pulang ke rumah berhari-hari, bukan karena tidak mau, melainkan tidak memiliki uang untuk ongkos pulang. Sempat berjalan kaki bersama anaknya hanya untuk berhemat.
“Memang penjualan kami minim banget penghasilannya, Pak. Enggak ada uang untuk pulang. Bukan karena tidak mau pulang, tapi memang tidak ada anggarannya,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Omset terbesar yang pernah diraih hanya sekitar Rp70.000 per hari — itu pun belum dipotong modal. Sering kali mereka rela tidak makan, agar anak-anak tetap bisa kenyang dan bersekolah.
“Tolonglah jangan diusir kami hanya butuh tempat untuk berdagang”
Harapan mereka sungguh sederhana. Tidak meminta kemewahan, hanya diberi ruang dan kesempatan untuk mencari nafkah tanpa terusir setiap saat.
“Tolonglah kami jangan diusir untuk dagang. Kasih kesempatan untuk kami berdagang. Selama ini kalau ada acara pemerintah, pemda, kami disingkirkan, tidak boleh dagang. Padahal UMKM yang boleh harus bayar, kami tidak sanggup,” ratapnya.
Zaman Pak Pepen kami dirangkul sekarang kami seperti sampah yang disingkirkan!
Para pedagang tak kuasa menahan rindu pada masa jabatan mantan Wali Kota Bekasi, Pak Pepen. Saat itu, mereka merasa dihargai, dirangkul, dan diberi ruang. Pak Pepen bahkan sering keliling naik sepeda, menyapa warga dan pedagang kecil secara langsung.
“Jamannya Pak Pepen, kami dirangkul. Beliau peduli sama kami. Artinya ini bukan rekayasa, kami memang salut sama beliau,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Kami juga manusia jangan perlakukan seperti binatang!
Pesan mereka kepada pemerintah sangat tegas: hadir bukan untuk mengusir, melainkan untuk mengatur dengan menghargai.
“Kami hanya ingin dimanusiakan. Walaupun dalam taraf ekonomi kami orang bawah, kami tetap manusia. Cukup hari ini bisa makan, anak bisa sekolah, itu sudah syukur. Tabungan? Itu jauh dari pikiran kami,” tegas para pedagang.
Mereka berharap kehadiran mereka diakui dan dilindungi, bukan dianggap gangguan yang harus disingkirkan ke sana kemari. Pewawancara berjanji akan menyampaikan aspirasi ini kepada pihak berwenang.(Hans)