Suaraakademis.com.|Gunungsitoli — Bertahun-tahun kami berjalan beriringan, merintis harapan dan cita-cita bersama. Langkah kami sama berat, mimpi kami sama besar, dan kami pernah saling berjanji: tak akan ada yang berjalan sendirian. Namun janji itu perlahan luntur, digerogoti rasa iri yang tak pernah ia akui, serta ketakutan mendalam bahwa dirinya takkan pernah mampu berdiri tegak dengan kekuatan sendiri.
Selama bertahun-tahun itu, kami berbagi sisa bekal, saling menutupi kekurangan, dan sama-sama berusaha bangkit dari keterbatasan yang kami miliki. Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai melihat kemajuan temannya bukan sebagai pelajaran untuk dikejar, melainkan sebagai ancaman yang harus disingkirkan. Bukannya berusaha berlari mengejar ketertinggalan, ia justru berhenti di pinggir jalan—lalu diam-diam menggali lubang agar temannya terjatuh.
Ia mulai menyusun kebohongan, menyembunyikan kebenaran, bahkan berpura-pura menjadi sahabat setia sambil menyiapkan jebakan. Semua itu ia lakukan hanya demi uang recehan, demi keuntungan sesaat yang nilainya tak seberapa. Di dalam angan-angannya, ia berkhayal: “Bila dia jatuh, giliranku yang akan dipandang hebat.” Padahal ia tak pernah berusaha mengasah kemampuan diri, tak pernah berani mencoba hal baru—ia hanya sibuk menghabiskan waktu untuk merusak apa yang dibangun orang lain.
Bertahun-tahun kepercayaan yang kami rajut bersama, hancur seketika karena dihargai dengan harga yang sangat murah. Kini kebenaran telah terungkap dengan jelas. Uang recehan yang didapat pun telah habis dipakai, namun tak ada lagi teman yang mau berjalan bersamanya. Ia berdiri sendirian di tempat yang sama, menyadari satu hal pahit: apa yang dibangun butuh waktu bertahun-tahun, tapi apa yang dirusak hanya butuh satu keinginan yang salah.
Sejak aku di kegelapan malam, aku berkata: jangan sampai terulang lagi. Namun aku tak akan henti untuk berusaha lebih baik di masa depan. Jangan biarkan iri membutakan mata hati, jangan biarkan keuntungan sesaat memutus ikatan persaudaraan, dan jangan pernah berpikir bahwa menjatuhkan orang lain adalah jalan menuju kemajuan.
“Bertahun-tahun menanam persahabatan, sekejap memanen penyesalan. Hati yang iri selalu buta melihat nilai yang mahal, dan hanya bisa melihat kepingan uang yang murah.”
“Orang yang sibuk melubangi jalan orang lain, tak akan pernah punya waktu untuk memperbaiki jalan sendiri. Semakin dalam ia menggali untuk orang lain, semakin dalam pula ia terperosok nantinya.”
“Uang recehan bisa habis dalam sekejap, tapi harga diri dan kepercayaan yang hilang tak akan pernah bisa dibeli kembali dengan berapapun harta.”
“Tak ada orang yang benar-benar tak mampu berdiri sendiri. Hanya ada orang yang lebih nyaman menjatuhkan orang lain, daripada berani berjuang dengan jujur untuk dirinya sendiri.”
Penulis: Afdika Permata Lase
(Karya ini disusun sebagai bahan refleksi sosial)
