OPINI
Refleksi iman dan nilai-nilai kehidupan tentang keadilan, kekuasaan, serta misteri takdir Tuhan yang mengingatkan manusia bahwa jabatan dan umur hanyalah titipan, sementara kejujuran dan kebaikan akan meninggalkan makna bagi sesama.
Oleh: Sanco Simanullang
Frasa “Lan pe di tahi jolma, rohaNa do na saut” merupakan penggalan lirik lagu rohani Batak yang sangat dikenal, yakni lagu “Pasahat Ma Sudena” dalam Buku Ende HKBP No. 279 atau Buku Logu No. 160.
Kita, manusia, sering merasa paling memahami kehidupan. Kita mengira orang baik akan selalu diberi umur panjang, orang jujur akan selalu menang, dan mereka yang melakukan kejahatan akan segera menerima balasannya. Namun, ketika melihat kenyataan, terkadang hati bertanya, “Tuhan, boasa songon on?” Mengapa harus demikian?
Ada pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Ada peristiwa yang membuat kita terdiam. Ada pula perjalanan hidup yang membuat kita hanya mampu menarik napas panjang sambil berkata, “Aha do ulaning sangkap ni Debata di ngolungku?”
Begitulah kehidupan. Tidak semua yang kita pikirkan menjadi kenyataan. Tidak semua yang kita harapkan terjadi sesuai keinginan. Sebab, manusia hanya melihat apa yang ada di depan mata, sedangkan Tuhan mengetahui seluruh perjalanan hidup kita.
Cobalah kita renungkan perjalanan dua sosok yang pernah menjadi perhatian publik dalam perkara hukum yang mengguncang negeri ini: Ferdy Sambo dan Kamaruddin Simanjuntak.
Di satu sisi, ada Ferdy Sambo, mantan perwira tinggi Polri yang terjerat perkara pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat. Pangkat pernah melekat, jabatan pernah diemban, dan kekuasaan pernah berada dalam genggamannya. Namun, pada akhirnya, ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya melalui proses hukum.
Orang Batak memiliki petuah yang sederhana, tetapi dalam maknanya:
“Songon sorga ni padati do ngoluon. Ndang manontong hamu di ginjang, songoni di toru.”
Hidup ini berputar. Tidak selamanya seseorang berada di atas, dan tidak selamanya pula ia berada di bawah.
Hari ini seseorang bisa dihormati karena jabatannya, tetapi esok hari ia mungkin harus menghadapi konsekuensi dari keputusan yang pernah dibuatnya sendiri.
Jabatan itu sementara. Pangkat itu sementara. Kekuasaan pun tidak akan dibawa sampai ke liang kubur.
“Unang ma teal molo di ginjang ho, jala unang ma gale molo di toru ho.”
Jangan sombong ketika berada di atas, dan jangan kehilangan harapan ketika berada di bawah.
Sebab, nilai seseorang bukan ditentukan oleh setinggi apa pangkat yang dimilikinya, melainkan oleh bagaimana ia menggunakan kekuasaan yang dipercayakan kepadanya.
Di sisi lain, ada Kamaruddin Simanjuntak, advokat yang dikenal luas karena keberaniannya mendampingi keluarga Brigadir Yosua dalam memperjuangkan keadilan.
Ia menjadi salah satu sosok yang berdiri di tengah perkara besar ketika perhatian masyarakat tertuju pada upaya mencari kebenaran dan menegakkan keadilan.
Perjuangannya mengingatkan kita bahwa membela keadilan bukanlah perkara mudah. Ada tekanan, perdebatan, risiko, dan kelelahan yang mungkin tidak diketahui orang lain.
Dalam kehidupan masyarakat Batak, kita mengenal ungkapan:
“Unang ma holan di hata, alai ingkon do di pambahenan.”
Kata-kata yang baik tidak cukup hanya diucapkan; semuanya harus diwujudkan melalui perbuatan.
Sebab, keberanian bukan hanya soal suara yang lantang. Keberanian juga berarti bersedia berdiri ketika orang lain memilih diam, selama apa yang diperjuangkan berlandaskan kebenaran dan dilakukan dengan cara yang bertanggung jawab.
Namun, ada satu hal yang harus kita sadari: manusia tetaplah manusia. Sehebat apa pun perjuangannya, ia memiliki keterbatasan. Seberani apa pun seseorang menghadapi dunia, ia tetap membutuhkan istirahat. Sebesar apa pun pengabdiannya kepada orang lain, tubuhnya pun bisa menjadi lemah.
Lalu, mengapa orang yang kita anggap baik harus menghadapi penderitaan? Mengapa orang yang kita anggap bersalah masih bisa menjalani hari-harinya?
Di sinilah iman kita diuji.
Dalam Pengkhotbah 3:1 tertulis:
“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.”
Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk hidup, ada waktu untuk berjuang, dan ada waktu ketika perjalanan kita di dunia harus berakhir.
Kita boleh bersedih. Kita boleh mempertanyakan keadaan. Kita boleh berharap agar keadilan ditegakkan. Namun, jangan sampai kita merasa mampu membaca seluruh rencana Tuhan hanya berdasarkan apa yang terlihat oleh mata.
Sebab, umur panjang bukanlah jaminan bahwa seseorang lebih benar. Penderitaan bukan berarti seseorang lebih berdosa. Dan kematian bukanlah bukti bahwa perjuangan seseorang telah gagal.
Dalam kehidupan, kita juga diingatkan untuk senantiasa berbuat baik selama masih diberi kesempatan. Sebab, kebaikan bukan hanya diukur dari lamanya seseorang hidup, melainkan juga dari nilai yang ditinggalkannya bagi orang lain.
Jika kita tidak bisa menentukan berapa lama hidup kita, setidaknya kita dapat memperbaiki perbuatan selama masih diberi kesempatan.
Itulah yang sering terlupakan.
Kita terlalu sibuk menghitung siapa yang lebih kaya, siapa yang lebih tinggi jabatannya, siapa yang lebih berkuasa, dan siapa yang lebih lama hidup. Padahal, pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apa yang sudah kita lakukan dengan kehidupan yang dipercayakan Tuhan kepada kita?
Apakah ketika menjadi pemimpin, kita melindungi orang-orang yang bekerja bersama kita?
Apakah ketika memiliki kekuasaan, kita masih mengingat mereka yang tidak memiliki suara?
Apakah ketika berada dalam kesulitan, kita tetap memegang teguh kejujuran?
Dan ketika melihat orang lain jatuh, apakah kita mengulurkan tangan atau justru menambah luka?
Dalam Mikha 6:8, kita diingatkan untuk berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah.
Itu bukan sekadar ayat untuk dibaca ketika beribadah. Itu adalah tuntunan yang seharusnya dijalankan setiap hari.
Adil dalam mengambil keputusan. Setia dalam menjalankan tanggung jawab. Rendah hati ketika meraih keberhasilan.
Begitulah seharusnya manusia menjalani kehidupannya.
Masyarakat Batak juga mengenal nilai hamoraon, hagabeon, hasangapon: kekayaan, keturunan, dan kehormatan. Namun, semuanya akan kehilangan makna jika tidak disertai karakter yang baik.
Apa gunanya hamoraon jika hati tidak pernah merasa cukup?
Apa gunanya hagabeon jika kita tidak mengajarkan kebenaran kepada anak-anak kita?
Apa gunanya hasangapon jika kehormatan hanya berdiri di atas jabatan, bukan di atas kejujuran?
Kita boleh bercita-cita tinggi. Kita boleh bekerja keras untuk mencapai keberhasilan. Kita boleh bangga atas apa yang telah diraih. Namun, jangan pernah lupa bahwa semua itu hanyalah titipan.
“Tanding do sude na i. Ai aha ma lapatan ni jolma, molo saluhutna na adong di ibana ingkon ditadinghon?”
Apa arti perjalanan hidup manusia jika pada akhirnya semua yang dimilikinya harus ditinggalkan?
Dalam Matius 16:26, Yesus mengingatkan tentang betapa sia-sianya memperoleh seluruh dunia apabila seseorang kehilangan nyawanya.
Karena itu, jangan hanya mengejar nama besar. Bangunlah nama baik.
Jangan hanya mengejar kekuasaan. Belajarlah memegang amanah.
Jangan hanya ingin dihormati. Jadilah orang yang memang layak dihormati.
Sebab, ada perbedaan besar antara orang yang dihormati karena jabatannya dan orang yang tetap dihormati ketika jabatannya sudah tidak ada.
Orang yang pertama mungkin kehilangan penghormatan ketika kekuasaannya berakhir. Sementara itu, orang yang kedua akan meninggalkan kenangan baik karena orang-orang pernah merasakan manfaat dari kehidupannya.
Di situlah sesungguhnya misteri takdir mengajarkan sesuatu kepada kita: kita tidak berkuasa menentukan berapa lama kita hidup, tetapi selama masih hidup, kita dapat memilih untuk berbuat baik.
Kita, orang Batak, sejak kecil diajarkan untuk menghormati orang tua, menjaga nama keluarga, dan bekerja keras demi masa depan anak-anak. Jangan sampai kita hanya mewariskan marga tanpa mewariskan nilai-nilai kehidupan.
Semoga anak-anak kita mengenang kita bukan hanya sebagai orang yang pernah memiliki jabatan, tetapi sebagai orang tua yang jujur.
Semoga keluarga kita mengingat kita bukan hanya karena harta yang kita kumpulkan, tetapi juga karena kasih yang kita berikan.
Dan biarlah orang-orang yang pernah bekerja bersama kita mengenang kita bukan karena takut kepada kita, melainkan karena mereka pernah merasakan keadilan dalam kepemimpinan kita.
Pada akhirnya, kehidupan bukan semata-mata tentang siapa yang paling lama bertahan, siapa yang paling tinggi kedudukannya, atau siapa yang paling banyak memiliki harta. Kehidupan juga tentang bagaimana kita menggunakan waktu yang diberikan Tuhan untuk menebarkan kebaikan, memperjuangkan keadilan, dan meninggalkan teladan bagi sesama.
Sebab, kita mungkin tidak dapat menentukan kapan perjalanan hidup berakhir, tetapi kita masih dapat menentukan nilai apa yang kita tinggalkan selama perjalanan itu berlangsung. (*)