7 Oktober 1861 – 7 Oktober 2026
Oleh: Dr. Ir. Sanco Simanullang, ST., MT., SH., IPM., ASEAN Eng
Anggota Pengurus Yayasan Kesehatan HKBP
165 Tahun HKBP: Dari Air Mata Para Ompung Menuju Terang Pelayanan
Ketika hari ini kita menyebut HKBP, sesungguhnya kita tidak sedang menyebut sekadar sebuah organisasi gereja. Kita sedang menyebut sebuah perjalanan iman yang panjang—perjalanan yang dibangun melalui doa, air mata, pengorbanan, kesetiaan, keberanian, dan iman orang-orang yang hidup jauh sebelum kita lahir.
165 tahun HKBP bukan sekadar angka yang layak dirayakan dengan pesta. Angka itu adalah perjalanan sejarah yang mengajak kita berhenti sejenak untuk mengingat dari mana kita datang, siapa yang telah berjuang sebelum kita, dan apa yang harus kita wariskan kepada generasi berikutnya.
7 Oktober 1861: Awal Perjalanan HKBP di Tanah Batak
Tanggal 7 Oktober 1861 menjadi tonggak penting dalam sejarah HKBP. Pada masa itu dimulai pekerjaan zending di Tanah Batak melalui pertemuan para misionaris yang menjadi bagian penting dari perjalanan penginjilan di Tanah Batak.
Para misionaris dari RMG dan Ermelo mengambil bagian dalam pembagian wilayah pelayanan penginjilan. Dari perjalanan panjang itulah kemudian lahir sejarah besar yang membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat Batak.
Nama Ingwer Ludwig Nommensen pun tidak mungkin dipisahkan dari sejarah penginjilan Batak. Ia datang membawa Injil dan menghadirkan sebuah perubahan yang tidak hanya menyentuh kehidupan rohani, tetapi juga pendidikan, kesehatan, martabat manusia, peradaban, dan pengharapan.
Karena itu, sejarah HKBP bukan hanya sejarah gereja. Sejarah HKBP juga menjadi bagian dari sejarah perubahan masyarakat Batak.
HKBP menjadi bagian dari perjalanan hidup Halak Batak.
Bayangkan Ompung Kita pada Masa Dahulu
Mari kita berhenti sejenak dan marpikkir jolo.
Bayangkan seorang ompung sijolo-jolo tubu yang hidup di Tanah Batak pada masa itu. Kehidupan masih sangat terbatas. Belum ada rumah sakit modern seperti yang kita kenal sekarang. Belum ada universitas, teknologi komunikasi, jalan yang memudahkan perjalanan, dan berbagai fasilitas kehidupan modern.
Kemudian Injil datang.
Tidak selalu mudah. Tidak selalu diterima. Ada penolakan, penderitaan, perjuangan, bahkan air mata. Namun cahaya itu terus dibawa dari satu kampung ke kampung lain, dari satu keluarga kepada keluarga lainnya, dan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Hari ini kita berdiri sebagai generasi yang menikmati buah dari perjuangan tersebut.
Kadang saya membayangkan, bagaimana jika ompung kita dahulu dapat melihat HKBP pada hari ini?
Mungkin mereka akan menangis.
Bukan karena kesedihan, tetapi karena terharu.
Mereka yang dahulu hidup dalam keterbatasan, kini melihat keturunannya berdiri di berbagai penjuru Indonesia bahkan dunia. Mereka yang dahulu berjalan dalam keterbatasan, kini melihat anak cucunya mengenal dan menyembah Tuhan Yesus.
Mungkin dari suatu tempat dalam keheningan sejarah, suara ompung kita seakan bernyanyi:
“Sai tong maimaima do, rohanta i di Jesus. Ibana haluaon do, di angka naung tinobus…”
HKBP Tidak Lagi Hanya di Tanah Batak
Cahaya itu ternyata tidak berhenti di Tanah Batak.
Orang Batak merantau. Mereka pergi ke Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, Manado, Makassar, Papua, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan berbagai wilayah lainnya.
Bahkan, komunitas dan pelayanan HKBP telah menjangkau berbagai negara.
Karena itu kita dapat mengatakan:
HKBPku, karena di dalamnya ada sejarah keluargaku.
HKBPmu, karena di dalamnya ada sejarah iman keluargamu.
Dan akhirnya:
HKBP Kita, karena HKBP bukan milik satu orang, satu kelompok, atau satu generasi.
HKBP adalah warisan iman yang dipercayakan Tuhan kepada kita bersama.
Sejarah HKBP dan Pelayanan Kesehatan
Jika gereja melayani manusia secara rohani, maka pelayanan kasih juga harus menyentuh tubuh dan kehidupan manusia.
Karena itulah sejarah HKBP juga tidak dapat dipisahkan dari pelayanan kesehatan.
Salah satu warisan penting tersebut adalah RSU HKBP Balige.
Pada tahun 1909, wabah disentri melanda Tanah Batak. Pemerintah dan zending kemudian bekerja sama mendirikan berbagai bangsal pengobatan. Di Balige dibangun Isolir Barake sebagai tempat perawatan.
Pada 1 Agustus 1918, Isolir Barake tersebut dikembangkan menjadi Rumah Sakit Pembantu yang kemudian dikenal sebagai Rumah Sakit HKBP Balige. Pada awalnya rumah sakit tersebut memiliki sekitar 10 tempat tidur dan dipimpin oleh misionaris K.H. Weissenbruch.
Seiring perjalanan waktu, rumah sakit tersebut berkembang. Pada masa kepemimpinan dr. W. Wagner, pelayanan kesehatan berkembang menjadi salah satu rumah sakit zending besar di Tapanuli dengan kapasitas hingga sekitar 250 tempat tidur serta jaringan pelayanan kesehatan yang luas.
Bahkan pada periode 1960–1970, RSU HKBP Balige pernah memperoleh reputasi sebagai salah satu rumah sakit swasta yang diperhitungkan di Indonesia.
Bayangkan.
Sebuah rumah sakit yang lahir dari semangat pelayanan misi lebih dari satu abad lalu pernah menjadi kebanggaan masyarakat.
Itu bukan sekadar bangunan.
Itu adalah warisan kasih.
RS HKBP Balige Bukan Sekadar Bangunan
RS HKBP Balige menjadi kesaksian bahwa sejak dahulu HKBP memahami bahwa memberitakan Injil dan melayani manusia tidak dapat dipisahkan.
Semangat pelayanan tersebut sejalan dengan Lukas 9:2:
“Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang.”
Karena itu, rumah sakit bukan hanya tempat orang datang ketika sakit.
Rumah sakit adalah tempat kasih Kristus harus terlihat.
Tempat orang miskin tidak merasa ditolak.
Tempat orang tua merasa dihormati.
Tempat anak yang sakit mendapatkan pertolongan.
Tempat keluarga yang berduka menemukan penghiburan.
Dan tempat dokter, perawat serta seluruh tenaga kesehatan tidak hanya bekerja dengan keterampilan profesional, tetapi juga dengan hati dan kasih.
Revitalisasi RS HKBP Balige: Warisan Besar yang Harus Dirawat
Hari ini kita harus berani berkata jujur:
RS HKBP membutuhkan revitalisasi.
Bukan karena kita tidak mencintainya.
Justru karena kita mencintainya.
Pimpinan HKBP bersama Yayasan Kesehatan HKBP pada 2026 juga telah membahas peningkatan pelayanan medis dan tahapan renovasi gedung RSU HKBP Balige sebagai bagian dari kelanjutan pelayanan kesehatan HKBP.
Maka pertanyaannya bukan hanya:
“Mengapa rumah sakit kita belum seperti yang kita harapkan?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apa yang bisa saya lakukan untuk membuat RS HKBP kembali menjadi kebanggaan kita?”
Gerakan Rp10.000: Sedikit dari Kita, Besar untuk Rumah Sakit Kita
Karena itu, ajakan Pucuk Pimpinan HKBP kepada seluruh warga HKBP untuk mengambil bagian dalam Gerakan Rp10.000 patut kita renungkan bersama.
Bukan karena Rp10.000 merupakan jumlah yang besar.
Tetapi karena kekuatan sebuah gerakan tidak selalu ditentukan oleh besarnya sumbangan seseorang.
Bayangkan:
10.000 orang × Rp10.000 = Rp100.000.000.
Namun jangan berhenti pada angka tersebut.
Yang sedang kita bangun bukan hanya gedung.
Kita sedang membangun kembali kepercayaan.
Kita sedang memperkuat pelayanan.
Kita sedang menyiapkan fasilitas kesehatan yang lebih baik.
Dan kita sedang mengatakan kepada generasi berikutnya:
“Kami tidak hanya menerima warisan HKBP. Kami juga merawat dan meneruskannya.”
Yayasan Kesehatan HKBP dan Tanggung Jawab Besar Pelayanan
Di balik upaya tersebut ada orang-orang yang tidak sedang duduk diam.
Pengurus Yayasan Kesehatan HKBP periode 2024–2028 dipimpin oleh:
- Letjen TNI (Purn.) Hinsa Siburian, Ketua;
- dr. Bonar Sinaga, Sp.OG, Sekretaris;
- Nursinta Sinambela, SE, MMTI, Bendahara.
Dengan anggota antara lain:
Dr. Ir. Sanco Simanullang, ST., MT., IPM., ASEAN Eng; dr. Abiran Nababan; Dr. dr. Leo Simanjuntak; Prof. Dr. dr. Sudung Pardede; dr. Baringin T.A. Manik; dr. Taor Marpaung; dan dr. Benni Sinaga.
Sementara Pengawas Yayasan Kesehatan HKBP diketuai dr. Rosma Napitupulu, dengan anggota Dr. Juliana Marpaung, Timbul Pangihutan Siahaan, AK, SH, MBA, dan Diakones Solide Siahaan.
Tanggung jawab tersebut tentu tidak ringan.
Ada tantangan manajemen, fasilitas, teknologi kesehatan, sumber daya manusia, keuangan, hingga kualitas pelayanan.
Namun tantangan terbesar mungkin adalah bagaimana mengembalikan dan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit yang memiliki sejarah panjang tersebut.
Karena itu, mereka tidak hanya membutuhkan kritik.
Mereka membutuhkan doa, dukungan, partisipasi, dan semangat seluruh warga HKBP.
“Tarbege Do Panjou ni Kristus”
Di tengah perjalanan 165 tahun HKBP, mari kita dengarkan kembali suara panggilan Kristus.
Seperti pesan iman yang begitu kuat dalam syair Buku Ende:
“Tarbege do panjou ni Kristus…”
Dengarkan panggilan Kristus.
Panggilan itu bukan hanya untuk pendeta. Bukan hanya untuk pengurus gereja. Bukan hanya untuk orang kaya. Bukan hanya untuk para tokoh.
Panggilan itu untuk kita semua.
Kristus memanggil kita untuk menjadi terang.
Untuk melayani.
Untuk berbagi.
Untuk menyembuhkan.
Untuk menguatkan.
Untuk membangun.
Untuk menjadi berkat.
Maka ketika RS HKBP membutuhkan revitalisasi, mungkin sesungguhnya Kristus sedang memanggil kita melalui kebutuhan rumah sakit tersebut.
Apa yang Sudah Kita Berikan kepada HKBP?
Saya kembali membayangkan ompung kita.
Mungkin dahulu ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari keturunannya akan menyebut nama Yesus.
Mungkin ia tidak pernah membayangkan bahwa orang Batak akan memiliki gereja yang tersebar ke berbagai penjuru Indonesia dan dunia.
Mungkin ia juga tidak pernah membayangkan akan ada sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan berbagai pelayanan sosial.
Jika hari ini ia dapat melihat kita, mungkin ia akan bertanya:
“Anakku, apakah engkau masih ingat dari mana terang itu datang?”
Kita mungkin akan menjawab:
“Ompung, kami ingat.”
Tetapi kemudian ia bertanya lagi:
“Kalau engkau ingat, apa yang sudah engkau lakukan untuk meneruskan terang itu?”
Pertanyaan itu seharusnya membuat kita diam.
Bahkan mungkin meneteskan air mata.
Karena terkadang kita terlalu sibuk menikmati warisan, tetapi lupa menjadi penerus warisan.
HKBPku, HKBPmu, HKBP Kita
165 tahun lalu, generasi sebelum kita menanam.
Hari ini kita menikmati buahnya.
Besok, anak cucu kita akan memanen apa yang kita tanam sekarang.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Apa yang diberikan HKBP kepada saya?”
Mari kita balik pertanyaannya:
“Apa yang sudah saya berikan kepada HKBP?”
Aha naung binaenmu?
Jika kita pernah dibaptis di HKBP…
Jika orang tua kita dibesarkan dalam HKBP…
Jika ompung kita dimakamkan dalam iman HKBP…
Jika anak-anak kita bertumbuh dalam nilai-nilai Kristiani…
Jika kita pernah menemukan penghiburan di gereja…
Maka mungkin sekarang waktunya kita berkata:
“Tuhan, ini bagian kecil yang dapat kami persembahkan.”
Mari Mulai dari Rp10.000
Gerakan Rp10.000 untuk Revitalisasi RS HKBP Balige.
Rp10.000 dari saya.
Rp10.000 dari engkau.
Rp10.000 dari keluarga kita.
Rp10.000 dari punguan.
Rp10.000 dari huria.
Rp10.000 dari sektor.
Rp10.000 dari diaspora.
Rp10.000 dari setiap hati yang masih mencintai HKBP.
Bukan nilai uangnya yang terutama.
Tetapi pesan iman di baliknya:
“Saya ikut bertanggung jawab atas masa depan pelayanan HKBP.”
Kalau kita bisa membangun gereja, mari kita bangun.
Kalau kita bisa membantu pendidikan, mari kita bantu.
Kalau kita bisa menolong orang sakit, mari kita menolong.
Kalau kita mampu memberikan Rp10.000, jangan menunggu sampai kita memiliki Rp10 juta.
Sebab sering kali mukjizat Tuhan dimulai dari sesuatu yang kecil yang dipersembahkan dengan hati yang besar.
165 Tahun HKBP: Jangan Biarkan Terang Berhenti
165 tahun HKBP adalah perjalanan dari Tanah Batak, dari air mata para pendahulu, dari perjuangan para misionaris, dari pelayanan Nommensen, dari kampung-kampung yang perlahan mengenal Injil, dan dari generasi yang dahulu berjalan dalam keterbatasan.
Kini cahaya itu telah berjalan jauh.
HKBP hadir di berbagai penjuru Indonesia.
HKBP hadir di mancanegara.
Dan kita adalah bagian dari perjalanan tersebut.
Jangan biarkan cahaya itu berhenti pada generasi kita.
Mari kita teruskan.
Mari kita rawat.
Mari kita bangun.
Mari kita layani.
Mari kita sembuhkan.
Mari kita menjadi berkat.
HKBPku. HKBPmu. HKBP Kita.
165 tahun bukan akhir perjalanan.
165 tahun adalah awal dari tanggung jawab baru.
Untuk Tuhan.
Untuk gereja.
Untuk sesama.
Untuk anak cucu kita.
Dan untuk sebuah rumah sakit tua yang pernah menjadi terang bagi Tanah Batak: RS HKBP Balige.
Mari kita hidupkan kembali semangat pelayanannya.
Bukan untuk kemegahan manusia, tetapi agar semakin banyak orang sakit menemukan pertolongan, semakin banyak keluarga menemukan pengharapan, dan semakin banyak manusia merasakan kasih.
Ketika suatu hari anak cucu kita bertanya:
“Apa yang dilakukan generasi kalian pada tahun 2026 ketika HKBP berusia 165 tahun?”
Semoga kita dapat menjawab:
“Kami tidak hanya merayakan sejarah. Kami ikut menulis sejarah.”
Selamat HUT ke-165 HKBP.
7 Oktober 1861 – 7 Oktober 2026.
Horas HKBP!
Tarbege do panjou ni Kristus.
Sai tongtong marsinondang ma HKBP.
HKBP menjadi berkat bagi dunia.
(Opini)