Suaraakademis.com| Jakarta— Pusaran kontroversi seputar keaslian ijazah Universitas Gadjah Mada milik Joko Widodo masih terus menyita perhatian publik. Di tengah riuh perdebatan dan ketegangan yang menyelimuti isu ini, Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Wilson Lalengke mengambil langkah reflektif dan persuasif: menyerahkan buku karyanya bertajuk Ijazah Jokowi: Pertaruhan Moralitas Bangsa dan Refleksi Kejujuran (Sebuah Renungan Filosofis).
Buku ini telah diserahkan kepada berbagai tokoh, termasuk dr. Tifauzia Tyassuma yang sebelumnya diperkarakan terkait isu yang sama. Kini, karya ini juga disampaikan kepada dua figur yang memiliki peran strategis dalam perjalanan politik mantan Presiden: Partono dan Iwan Piliang.
Dua Sahabat, Dua Peran Penting dalam Sejarah Politik Jokowi
Wilson Lalengke menjelaskan bahwa Partono dan Iwan Piliang adalah sahabat lamanya, meski keduanya tidak saling mengenal satu sama lain. Keduanya memiliki jejak penting yang berkelindan dengan karir politik Joko Widodo:
Pertama, Iwan Piliang adalah salah satu motor penggerak utama tim sukses yang mengantarkan pasangan Joko Widodo–Basuki Tjahaja Purnama memenangkan Pilgub DKI Jakarta 2012—titik tolak yang melambungkan nama Jokowi ke panggung nasional hingga akhirnya terpilih sebagai Presiden pada 2014 dan 2019. Ia juga aktif bersama Wilson di lingkungan PPWI.
Kedua, Partono memiliki kedekatan institusional dengan dinamika pemilu di ibu kota selaku mantan anggota Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) DKI Jakarta periode 2018–2023, serta sesama penerima beasiswa Ford Foundation.
Penyerahan buku dilakukan secara terpisah:
– Kamis, 25 Juni 2026: Buku diserahkan kepada Partono di ruang kerjanya di Lantai 6 Gedung Ombudsman Republik Indonesia, Jakarta.
– Sabtu, 4 Juli 2026: Buku diserahkan kepada Iwan Piliang di sebuah restoran Jakarta Pusat.
Melalui kedekatan personal Iwan Piliang dengan mantan Presiden, Wilson secara khusus menitipkan satu eksemplar untuk disampaikan langsung ke tangan Joko Widodo.
Bukan Alat Politik, Melainkan Cermin Kejujuran
Wilson Lalengke—lulusan etika global Universitas Birmingham Inggris dan mantan dosen paruh waktu Universitas Bina Nusantara—menegaskan buku ini bukanlah senjata politik.
“Terlepas dari segala kegaduhan, polemik hukum, dan sentimen yang membara, saya berharap Bapak Jokowi berkenan meluangkan waktu membaca dan meresapi isinya. Ini bukan untuk memojokkan, melainkan media kontemplasi: tentang kejujuran, integritas, dan apa yang sesungguhnya kita wariskan kepada bangsa,” ujarnya.
Secara filosofis, langkah ini mengingatkan pada kisah Diogenes yang membawa lentera di siang hari mencari “manusia yang jujur” — sebab kejujuran adalah nilai yang tak bisa dibeli oleh kekuasaan. Sejalan dengan pemikiran Marcus Aurelius, seorang pemimpin sejati akan tenang ketika berani menghadapi kebenaran apa adanya, tanpa topeng pencitraan.
Pada akhirnya, titipan buku ini menjadi sebuah pertanyaan terbuka: apakah mantan pemimpin bangsa ini bersedia menatap cermin kejujuran demi warisan sejarah yang bersih, atau membiarkan ego menutup jalan kebenaran?(Tim/red)
