SuaraAkademis.com | Feature Inspiratif
Di tengah hiruk-pikuk pasar tradisional yang dipenuhi suara tawar-menawar dan aroma dagangan, sosok seorang ibu penjual kue basah sederhana mencuri perhatian. Bukan karena lapaknya besar atau dagangannya mewah, melainkan karena satu prinsip hidup yang ia pegang teguh: shalat tepat waktu, apa pun keadaannya.
Lapak kecil itu kerap ramai pembeli, terutama menjelang siang. Namun setiap kali adzan Dzuhur berkumandang dari masjid seberang pasar, ibu paruh baya tersebut selalu menghentikan aktivitas jual-beli. Tanpa ragu, ia menutup lapaknya sementara dan bergegas memenuhi panggilan ibadah.
Suatu hari, saat pembeli tengah ramai dan beberapa orang sudah menggenggam uang, ibu itu dengan senyum santun berkata:
” Mohon maaf Ibu-ibu, Bos Besar saya sudah memanggil. Saya tutup dulu sekitar 15 menit. Kalau berkenan menunggu silakan, kalau terburu-buru mohon maaf.”
Sebagian pembeli memilih menunggu, sebagian lainnya pergi. Namun langkah ibu itu tetap mantap menuju masjid, seolah tak terpengaruh oleh peluang keuntungan yang ada di depan mata.
Pembeli Hanya Perantara Rezeki
Rasa penasaran akhirnya membuat seorang pengunjung memberanikan diri bertanya saat suasana lapak sedang sepi.
“Bu, kenapa Ibu berani meninggalkan pembeli demi shalat di awal waktu? Tidak takut kehilangan rezeki?”
Ibu itu menatap dengan wajah teduh. Jawabannya singkat, namun sarat makna.
“Nak, pembeli itu hanya perantara. Mereka cuma kurir. Pemberi rezeki yang sebenarnya itu Allah.”
Ia menambahkan,
“Kalau adzan sudah berbunyi, itu tanda Yang Punya Rezeki memanggil saya. Masa saya lebih mementingkan kurir daripada Sang Pemilik Harta?”
Menurutnya, menunda shalat sama artinya dengan menunda adab kepada Allah. Ia mengaku takut jika menunda panggilan-Nya, maka keberkahan hidup pun akan ditunda.
Pelajaran Tauhid dari Pasar Tradisional
Kisah ibu penjual kue ini menjadi pengingat kuat di tengah masyarakat modern yang kerap mengorbankan ibadah demi kesibukan dunia. Tanpa teori panjang, ia mempraktikkan tauhid dalam kehidupan sehari-hari.
Menariknya, meski sering “menutup lapak” saat waktu shalat, dagangan ibu tersebut hampir selalu habis sebelum sore. Sebuah bukti bahwa Allah tidak pernah mengecewakan hamba yang mendahulukan-Nya.
Di balik kesederhanaannya, ibu itu mengajarkan bahwa rezeki bukan sekadar soal jumlah uang, melainkan tentang keberkahan, ketenangan, dan keyakinan kepada Allah.
Kisah ini menjadi cermin bagi siapa pun: jangan sampai kesibukan mencari nafkah justru menjauhkan diri dari Sang Pemberi Nafkah.
