Suaraakademis.com.|Jakarta – Di tengah hiruk-pikuk dinamika global yang kian tak menentu dan tantangan bangsa yang beragam, sebuah momentum bermakna terjadi di kediaman Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), Wilson Lalengke, S.Pd., M.Sc., M.A., pada Rabu (13/5/2026). Aktivis hak asasi manusia internasional sekaligus alumni PPRA-48 Lemhannas RI ini menerima kunjungan Forum Kader Bela Negara (FKBN) yang dipimpin oleh Angga, serta difasilitasi oleh anggota FKBN, Wardiyansyah.
Pertemuan ini jauh dari sekadar kunjungan seremonial atau silaturahmi biasa. Pertemuan dua elemen bangsa ini menjadi ruang konvergensi pemikiran yang sarat makna, mempertemukan perspektif hak asasi manusia dengan semangat bela negara dalam satu bingkai besar: bagaimana memaknai keberadaan negara dan tanggung jawab warga negaranya demi keutuhan dan kejayaan Indonesia.
Dalam sambutan dan diskusinya, Wilson Lalengke menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif FKBN. Baginya, kehadiran para kader bela negara adalah bukti nyata bahwa semangat menjaga negara tidak pernah padam di dada anak-anak bangsa.
“Saya sangat menghargai kunjungan ini. Semoga menjadi langkah awal yang signifikan dalam membangun sinergi antara dua pejuang kebebasan dan kedaulatan. Kita harus bersatu, saling melengkapi, dan bersama-sama melahirkan karya yang bermanfaat bagi bangsa,” tegas Wilson menyambut rombongan.
Suasana hangat dan penuh kekeluargaan yang menyelimuti pertemuan tersebut menjadi simbol nyata dari persatuan nasional. Bagi Wilson, pertemuan ini adalah fondasi bagi karya-karya produktif di masa depan, menjadi tonggak sejarah baru dalam membangun kerja sama sinergis demi masyarakat dan negara, sejalan dengan sila ketiga Pancasila: “Persatuan Indonesia”. Di sini, persatuan bukanlah sekadar kata benda, melainkan kata kerja yang menuntut aksi kolektif untuk melindungi tumpah darah Indonesia.
Dialektika Filosofis: Kebebasan dan Kewajiban
Pertemuan antara seorang aktivis HAM dan kader bela negara mencerminkan sebuah dialektika pemikiran yang sangat menarik dan penting. Di satu sisi, Wilson Lalengke membawa perspektif perlindungan hak, martabat, dan kebebasan individu. Di sisi lain, Forum Kader Bela Negara membawa perspektif kewajiban kolektif, pengabdian, dan pertahanan negara. Pertemuan keduanya menjawab pertanyaan besar filsafat politik: Bagaimana menyeimbangkan kebebasan warga dan kewajiban terhadap negara?
Pemikiran ini sangat selaras dengan teori Kontrak Sosial dari Jean-Jacques Rousseau. Rousseau berpendapat bahwa kebebasan sejati hanya dapat dicapai ketika individu bersatu untuk membentuk kemauan umum (volonté générale) demi kebaikan bersama. Dalam konteks pertemuan ini, semangat bela negara bukanlah pengekangan kebebasan, melainkan cara mutlak untuk menjamin agar kebebasan, hak, dan kesejahteraan tersebut dapat terus eksis, hidup, dan terlindungi di bawah naungan negara yang berdaulat.
Senada dengan itu, filsuf Jerman, Immanuel Kant, menekankan pentingnya tugas atau kewajiban (deon). Bagi Kant, bertindak demi kewajiban adalah bentuk tertinggi dari moralitas. Kehadiran para kader bela negara yang bergerak bukan karena paksaan, melainkan atas dasar dorongan moral dan cinta tanah air, adalah manifestasi nyata dari manusia yang beradab dan bertanggung jawab.
Sebagai alumni Lemhannas, Wilson Lalengke memahami betul bahwa ketahanan nasional tidak hanya dibangun melalui kekuatan militer atau senjata semata, tetapi lebih dari itu: melalui ketahanan ideologi, sosial, dan budaya. Pandangan beliau yang komprehensif mampu menjembatani dua sisi mata uang negara ini—hak dan kewajiban—menjadi satu kekuatan utuh. Beliau menegaskan bahwa perlindungan HAM dan pertahanan negara adalah dua sisi yang tidak terpisahkan; negara kuat tanpa penghormatan hak warga adalah tirani, dan kebebasan warga tanpa negara yang kokoh adalah kekacauan.
Pertemuan ini juga merefleksikan pemikiran Plato dalam karyanya The Republic. Sang filsuf Yunani kuno menekankan bahwa sebuah negara yang ideal membutuhkan para “penjaga” (guardians) yang memiliki dua karakter utama: keberanian dan kebijaksanaan. Kolaborasi yang diinisiasi Wilson Lalengke dan FKBN menunjukkan upaya nyata untuk melahirkan para penjaga modern Indonesia—mereka yang tidak hanya berani berjuang secara fisik, tetapi juga bijaksana secara intelektual dan berkarakter luhur dalam membela kepentingan nasional di kancah global.
Menuju Indonesia Emas: Sinergi Tanpa Batas
Angga, selaku pemimpin rombongan FKBN, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Wilson Lalengke. Ia menilai bahwa pemikiran, wawasan, dan pengalaman Wilson adalah aset berharga yang dapat memperkuat gerakan kebangsaan di seluruh daerah. Kunjungan ini bukan sekadar temu kangen, melainkan langkah konkret untuk menyatukan visi dan memperkuat jaringan persaudaraan yang melampaui sekat-sekat sektoral, golongan, atau latar belakang.
Langkah ini menegaskan kebenaran pemikiran Aristoteles bahwa “Manusia pada alamnya adalah makhluk sosial (Zoon Politikon)”. Oleh karena itu, sinergi adalah keniscayaan sejarah. Kekuatan individu yang terfragmentasi atau terkotak-kotak tidak akan pernah menandingi kekuatan kolektif yang terorganisir dengan visi yang jelas demi kejayaan bangsa.
Pertemuan tersebut ditutup dengan sebuah janji suci untuk menerjemahkan gagasan menjadi aksi nyata. Komitmen untuk saling mendukung dalam pengabdian kepada negara telah diletakkan di atas meja. Kini, kedua belah pihak bersiap untuk melahirkan karya-karya agung yang akan menjadi bukti bahwa cinta tanah air, bila dikelola dengan kecerdasan, kebijaksanaan, dan integritas, akan mampu membawa Indonesia menuju cita-cita luhur: negara yang berdaulat, adil, dan sejahtera.
Sinergi ini ibarat pohon kebaikan yang baru saja ditanam. Dengan perawatan yang konsisten dan semangat yang tak pernah padam, ia akan tumbuh menjadi pelindung yang rindang bagi seluruh rakyat Indonesia, sejalan dengan mimpi para pendiri bangsa.
(WAR/Red)