Suaraakademis.com.|Solok Selatan – Di sebuah sudut terpencil di wilayah Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, nasib pilu menyelimuti kehidupan Rusdi Asmi (28). Di usia yang seharusnya menjadi masa-masa produktif membangun masa depan, pemuda penyandang disabilitas sejak lahir ini justru harus bergelut dengan keterbatasan fisik dan hidup serba kekurangan, berjuang bertahan hidup seorang diri bersama ibunya yang sudah lanjut usia, renta, dan sakit-sakitan.
Rusdi adalah seorang yatim. Satu-satunya sandaran hidup yang ia miliki kini hanyalah sang ibu yang sudah tak berdaya. Dulu, ibunya masih mampu bekerja serabutan di sawah orang lain untuk menyambung hidup. Namun kini, karena usia senja dan kondisi kesehatan yang terus menurun, wanita tua itu sudah tidak mampu lagi bekerja. Keduanya pun terperangkap dalam jerat kemiskinan dan keterbatasan, jauh dari sentuhan bantuan maupun perhatian pihak mana pun.
Kesunyian dan keluputan itulah yang membuat hati Rusdi tersayat pilu. Saat ditanya mengenai bantuan sosial, uluran tangan, atau perhatian yang pernah ia terima selama ini, jawabannya begitu singkat namun menyayat hati. Pesan itu ia sampaikan dalam percakapan pesan singkat dengan Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), Wilson Lalengke, pada Selasa (12/5/2026).
“Siapa yang bantu Pak Rusdi selama ini? Tidak ada yang bantu kami, Pak. Ibu saya dulu kerja di sawah orang, sekarang sudah tua tidak bisa kerja lagi. Tolonglah, Pak…” tulis Rusdi, menggambarkan betapa berat dan sepinya perjuangan hidup yang ia jalani berdua ibunya.
Kisah Rusdi Asmi menjadi tamparan keras bagi semangat kemanusiaan dan gotong royong yang selama ini digaungkan. Di tengah kemajuan zaman dan jaminan perlindungan sosial, masih ada warga negara yang nyaris terlupakan, hilang dari daftar perhatian, dan seolah tidak dianggap keberadaannya.
Kondisi ini juga menjadi ujian nyata bagi amanat konstitusi negara. Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 secara tegas menyatakan bahwa, “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.” Kasus Rusdi adalah indikator seberapa jauh negara hadir menjamin hak seluruh warganya tanpa terkecuali.
Menanggapi hal itu, Wilson Lalengke menegaskan bahwa rakyat adalah pemilik sah negeri ini, dan pemerintah hanyalah pelayan yang digaji rakyat untuk memastikan tidak ada satu pun warga—terutama mereka yang paling lemah dan rentan—yang tertinggal atau terabaikan.
“Jika aparatur negara menutup mata terhadap kondisi seperti ini, maka mereka telah berkhianat pada mandat rakyat. Kehadiran negara harus nyata, bukan hanya slogan,” tegas Wilson.
Kini, harapan Rusdi dan ibunya tertuju pada Pemerintah Kabupaten Solok Selatan dan Dinas Sosial setempat agar segera turun tangan. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar rasa simpati, melainkan kepastian jaminan kesehatan, bantuan pangan rutin, serta pemenuhan hak aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.
Pihak PPWI juga menyerukan panggilan kemanusiaan kepada para pemilik usaha, pengusaha, dan dermawan. Keuntungan yang diraih setiap hari tidak akan berkurang nilainya jika sebagian dialokasikan untuk menyambung nyawa dua manusia yang sedang terpuruk ini. Bantuan untuk Rusdi bukan sekadar kedermawanan, melainkan investasi kemanusiaan yang bernilai tinggi.
“Rusdi tidak meminta kemewahan. Ia hanya meminta haknya untuk bertahan hidup dengan layak bersama ibu tercintanya. Kita tidak butuh menunggu kebijakan besar untuk membantunya; yang kita butuhkan adalah nurani yang masih berfungsi,” tambah Wilson.
Filsuf Immanuel Kant pernah mengajarkan bahwa martabat manusia adalah sesuatu yang tidak ternilai harganya. Membiarkan penyandang disabilitas dan orang tua lanjut usia kesusahan dan kelaparan karena ketidakmampuan bekerja, sama saja membiarkan martabat dan kehormatan bangsa ini runtuh perlahan.
Bagi siapa saja yang memiliki akses kekuasaan, pengaruh, atau kelebihan rezeki, mari bergerak. Rusdi Asmi adalah saudara kita, dan penderitaannya adalah duka kita bersama.
Bagi pihak yang ingin mengetahui lebih dalam atau berniat membantu kisah Rusdi Asmi ini, dapat menghubungi Sekretariat PPWI Nasional melalui nomor kontak: 081371549165 (a.n. Shony).
Mari kita suarakan kisah ini hingga sampai ke telinga mereka yang mampu mengubah keadaan. Jangan biarkan Rusdi Asmi terus berjuang sendirian dalam kegelapan dan kesunyian.
(TIM/Red)