Suaraakademis.com.|Rabat – Dukungan internasional terhadap kedaulatan penuh Kerajaan Maroko atas wilayah Sahara terus menguat dan semakin kokoh. Pada Kamis (7/5/2026), Republik Zambia secara resmi kembali menegaskan sikap tegas dan konsistennya dalam mendukung integritas wilayah negara Maroko serta prinsip kemarokan Sahara (Moroccanness of the Sahara).
Pernyataan sikap ini tertuang dalam Komunike Bersama yang diterbitkan di Rabat, usai pertemuan bilateral antara Menteri Luar Negeri, Kerja Sama Afrika, dan Ekspatriat Maroko, Nasser Bourita, dengan Menteri Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Republik Zambia, Mulambo Haimbe, yang tengah melakukan kunjungan kerja resmi ke Kerajaan Maroko.
Salah satu poin paling krusial dan bersejarah dalam pertemuan tersebut adalah sambutan hangat sekaligus dukungan penuh dari Zambia terhadap adopsi Resolusi 2797 Dewan Keamanan PBB pada 31 Oktober 2025. Resolusi ini menjadi tonggak penting yang secara fundamental mengukuhkan Rencana Otonomi yang diusulkan oleh Kerajaan Maroko sebagai satu-satunya dasar yang serius, kredibel, dan berkelanjutan untuk mencapai solusi politik atas perselisihan yang terjadi di wilayah Sahara.
Menteri Mulambo Haimbe menegaskan, inisiatif otonomi di bawah payung kedaulatan Maroko merupakan kerangka kerja yang pragmatis, konstruktif, dan paling mendekati realitas. Pemerintah Zambia menilai tidak ada jalan keluar lain yang lebih realistis dan layak untuk menyelesaikan sengketa regional ini selain melalui proposal yang diajukan Rabat, yang kini telah mendapatkan pengakuan luas dari komunitas internasional.
“Zambia mendukung penuh upaya Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mencapai solusi damai bagi perselisihan regional ini. Kami memandang rencana otonomi Maroko sebagai jalan keluar yang paling kredibel, serius, dan mampu menjamin stabilitas jangka panjang kawasan,” tegas Haimbe dalam pernyataan resminya.
Menteri Nasser Bourita pun menyambut baik perkembangan pesat hubungan diplomatik yang terjalin hangat antara kedua negara persaudaraan dalam beberapa tahun terakhir. Kedekatan politik ini dibuktikan secara nyata dengan pembukaan Kedutaan Besar Zambia di Rabat serta Konsulat Jenderal di kota Laayoune pada Oktober 2020. Kehadiran perwakilan diplomatik Zambia di Laayoune — jantung wilayah Sahara — merupakan bentuk pengakuan de facto maupun de jure yang sangat kuat atas kedaulatan Maroko di wilayah tersebut.
Dukungan Indonesia: Langkah Ini Kemenangan Logika Politik & Kemanusiaan
Menanggapi kemajuan diplomatik yang sangat signifikan ini, Presiden Persaudaraan Indonesia Sahara Maroko (Persisma), Wilson Lalengke, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang mendalam. Sebagai tokoh yang aktif menjembatani hubungan persaudaraan masyarakat Indonesia dan Maroko, serta Petisioner Hak Asasi Manusia PBB tahun 2025, Wilson menilai dukungan Zambia adalah kemenangan nyata logika politik dan nilai-nilai kemanusiaan.
“Kami di Persisma merasa sangat bangga dan mengapresiasi kemajuan diplomatik yang luar biasa ini. Penegasan dukungan dari Zambia, yang diperkuat dengan Resolusi 2797 Dewan Keamanan PBB, menjadi bukti nyata bahwa dunia semakin sadar dan mengakui hak historis, hukum, dan kedaulatan Maroko atas wilayah Saharanya,” ungkap Wilson Lalengke dari Jakarta, Jumat (8/5/2026).
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) itu kembali menegaskan bahwa stabilitas di wilayah Sahara Maroko adalah kunci utama bagi keamanan, perdamaian, dan kemajuan seluruh kawasan Afrika Utara. Persisma sendiri berkomitmen untuk selalu mendukung setiap kemajuan positif yang terjadi di wilayah Sahara.
“Kami percaya, pembangunan ekonomi dan sosial yang sangat pesat di sana, yang berlangsung di bawah kedaulatan Kerajaan Maroko, adalah bukti keseriusan Raja Mohammed VI dalam menyejahterakan seluruh rakyatnya tanpa terkecuali. Dukungan internasional yang terus mengalir ini adalah buah dari diplomasi yang jujur, konsisten, dan berwawasan ke depan,” tambah tokoh pers nasional ini.
Kemajuan diplomatik ini diharapkan dapat menjadi pendorong bagi negara-negara lain untuk mengikuti jejak Zambia, mengakui realitas yang ada di lapangan, dan turut mendukung stabilitas kawasan. Dengan dukungan internasional yang semakin bulat, perselisihan ini diharapkan segera berakhir, sehingga wilayah Sahara dapat terus tumbuh menjadi pusat ekonomi baru yang mengangkat derajat masyarakat Afrika.
Persisma sendiri berkomitmen untuk terus menyebarluaskan informasi positif mengenai perkembangan di Sahara Maroko kepada publik Indonesia, guna mempererat ikatan persaudaraan yang telah terjalin erat sejak era Presiden Soekarno dan Raja Mohammed V.
[PERSISMA/Red]