Medan||Langit pagi di Asrama Haji Medan tampak lebih syahdu dari biasanya. Di antara deretan koper yang tertata rapi, satu kisah haru ikut berangkat bersama rombongan kloter 17 KNO. Kisah itu milik seorang dosen sekaligus jurnalis, Dr. Muhammad Said Harahap, yang menapaki perjalanan panjang penuh ketekunan hingga akhirnya menjejakkan kaki menuju Tanah Suci bersama istri tercinta.
Sejak tahun 2000, Said mengabdikan dirinya sebagai wartawan di Harian Analisa. Dunia jurnalistik membentuknya menjadi sosok yang tajam dalam berpikir, jujur dalam menyampaikan kebenaran, dan dekat dengan realitas kehidupan masyarakat. Di saat yang sama, ia juga mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, mendidik generasi muda dengan penuh dedikasi.
Bagi para mahasiswa dan anak-anak muda, Said bukan sekadar dosen. Ia adalah teladan hidup—tentang kerja keras, kesederhanaan, dan keyakinan. Dalam setiap langkahnya, ia menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu datang dari kemewahan, tetapi dari ketekunan dan doa yang tak pernah putus.
Di depan pintu keberangkatan, koper Said dan istrinya sudah siap. Tidak penuh oleh-oleh, hanya berisi kebutuhan sederhana: ihram, mukena, Al-Qur’an kecil, dan obat-obatan. Namun, ada satu hal yang tak kasat mata—hati yang penuh syukur.
“Isinya memang sederhana, tapi hati kami penuh. Penuh syukur karena Allah mampukan hamba-Nya,” ucap Said dengan mata berkaca-kaca.
Ia menegaskan bahwa keberangkatan ini bukan semata karena kemampuan finansial. Sebagai staf pengajar, ia merasa dirinya hanyalah orang biasa. Namun, ia memegang satu prinsip hidup yang sederhana namun kuat:
“Niat + Istikamah = Jalan.”
“Bukan gaji yang memberangkatkan kami,” lanjutnya, “tapi keyakinan bahwa kalau sudah niat, langit pun akan ikut mendoakan.”
Perjalanan menuju Baitullah ini bukanlah perjalanan singkat. Ia adalah akumulasi dari doa-doa panjang, usaha yang konsisten, dan keyakinan yang tak pernah goyah. Dari ruang redaksi hingga ruang kelas, dari kesibukan dunia hingga panggilan spiritual, Said membuktikan bahwa mimpi besar bisa dicapai oleh siapa saja yang mau bersungguh-sungguh.
Kepada masyarakat yang masih ragu untuk mendaftar haji karena keterbatasan biaya, Said menyampaikan pesan yang sederhana namun menyentuh hati:
“Percayalah. Mulai saja dulu dari niat sehari. Allah tidak tidur. Dia melihat setiap koin yang kamu sisihkan sambil menyebut nama-Nya.”
Kini, bersama sang istri, ia melangkah menuju Tanah Suci dengan penuh harap. Harap untuk menjadi hamba yang lebih baik, lebih dekat kepada Sang Pencipta, dan pulang membawa predikat haji yang mabrur.
“Doakan kami ya. Semoga pulang bisa jadi pribadi yang lebih baik. Dari kami, dua hamba yang pas-pasan di mata manusia, tapi dicukupkan oleh-Nya. Labbaikallahumma Labbaik.”
Sebuah perjalanan yang bukan hanya tentang jarak, tetapi tentang iman, kesabaran, dan keyakinan. Kisah yang mengingatkan kita bahwa di balik keterbatasan, selalu ada jalan bagi mereka yang percaya.
