Suaraakademis.com||Medan_DI ruang kerja yang dipenuhi buku dan suasana tenang, Rektor Universitas Medan (UMA) Area Prof Dr Dadan Ramdan, M.Eng., M.Sc tampak santai menyambut kedatangan kami. Di balik sikapnya yang sederhana, tersimpan visi besar untuk membawa UMA menjadi kampus yang fleksibel terhadap zaman, tanpa melupakan nilai-nilai kemanusiaan.
Ia bukan hanya seorang akademisi, tapi juga seorang yang berinovasi membawa semangat perubahan ke dunia pendidikan tinggi. Prof Dadan memulai perjalanannya sebagai seorang dosen. Ia dikenal sebagai sosok yang sederhana, disiplin, dan selalu menekankan pentingnya kualitas serta integritas dalam mengajar. Dari ruang kelas, dipercaya memegang berbagai jabatan penting. Mulai dari dekan hingga akhirnya ditunjuk menjadi Rektor UMA.
Ketulusannya dalam bekerja dan keteguhannya dalam prinsip membuatnya kembali dipercaya untuk memimpin UMA dari periode 2025-2029. Belakangan, UMA kerap dijuluki “Kampus AI”. “UMA berencana mengoptimalisasikan AI lebih efektif, efisien, lebih cepat dan akurat, namun dengan catatan harus cermat dan berhati-hati dalam penggunaannya dan tetap harus dikontrol penggunaannya jangan sampai dikendalikan oleh AI itu sendiri,” ujarnya mantap.
Namun siapa sangka, jauh sebelum menjabat sebagai rektor, ia tak pernah membayangkan akan memimpin kampus sebesar UMA. “Saya hanya ingin berkontribusi melalui dunia pendidikan, bukan semata mengejar jabatan,” ungkapnya. Perjalanan panjang dari dosen, dekan, hingga akhirnya duduk di kursi rektor menjadi pelajaran berharga tentang tanggungjawab dan ketulusan dalam memimpin.
Prof Dadan juga menjelaskan langkah nyata kampus dalam mewujudkan Green Digital University. Program tersebut mencakup transformasi sistem pembelajaran digital, pengelolaan kampus ramah lingkungan, serta peningkatan kesadaran sivitas akademika terhadap pentingnya keberlanjutan. “Dampaknya akan terasa bukan hanya bagi mahasiswa dan dosen, tapi juga masyarakat sekitar yang menikmati hasil dari inovasi kampus,” katanya.
Menjabat sejak tahun 2022 hingga 2029, Rektor UMA memiliki sejumlah program prioritas yang tengah digarap. Di antaranya adalah peningkatan mutu riset, penguatan kolaborasi internasional, serta pemberdayaan mahasiswa melalui program kewirausahaan dan pengabdian masyarakat. Ia berharap, program tersebut dapat membawa UMA menjadi universitas yang unggul secara akademik dan berkarakter sosial tinggi.
Kini dalam perjalanan kariernya, rektor yang sebelumnya pernah menjabat sebagai dosen dan dekan ini mengaku setiap posisi yang dijalani memberinya pelajaran berharga. “Setiap peran memiliki nilai pembelajaran tersendiri. Semua itu membentuk cara saya memimpin hari ini,” tuturnya. Namun siapa sangka, jauh sebelum menjabat sebagai rektor, ia tak pernah membayangkan akan memimpin kampus sebesar UMA. “Saya dulu hanya ingin mengabdi sebagai dosen. Jadi ketika dipercaya menjadi rektor, ini bukan sekadar jabatan, tapi amanah untuk memajukan dunia pendidikan,” katanya mengenang perjalanan panjangnya dari dosen, dekan, hingga kini menjadi rektor.
Di balik padatnya jadwal sebagai pimpinan universitas, ia juga tetap menjaga keseimbangan hidup melalui berbagai aktivitas pribadi. Menurutnya, menjaga kesehatan fisik dan mental penting agar tetap mampu berpikir jernih dalam mengambil keputusan. Ia menilai, dunia pendidikan tinggi menuntut pemimpin untuk cepat beradaptasi tanpa kehilangan idealisme akademik. “Kita tidak boleh terseret arus pragmatisme. Pendidikan harus tetap berpihak pada nilai-nilai keilmuan dan kemanusiaan,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan pandangannya tentang makna prestasi mahasiswa. “Prestasi harga mati, kalau tidak berprestasi mati saja,” ujarnya dengan tegas. Menurutnya, prestasi bukan hanya sekedar diukur dari nilai akademik, melainkan juga dari karakter, kreativitas, dan kontribusi sosial. Terkait kondisi ekonomi negara saat ini yang menjadi permasalahan banyak mahasiswa berhenti kuliah dikarenakan ekonomi dan kesulitan membayar UKT, UMA berkomitmen untuk memberikan solusi.
Pihak universitas menyediakan program berbagai bentuk bantuan seperti, BIB, KIP, Beasiswa Yayasan untuk saudara kandung atau keluarga staf. Di luar program yang diberikan, program bantuan lain saat ini masih dalam proses. UMA juga mempunyai moto kekeluargaan. “Tidak boleh ada mahasiswa yang berhenti kuliah hanya karena keterbatasan ekonomi,” tegasnya.
Dengan visi yang berorientasi pada inovasi, keberlanjutan, dan kemanusiaan, UMA terus berupaya menjadi kampus yang tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi juga tangguh secara sosial. Dan ia berharap ekonomi Indonesia saat ini akan segera pulih.(Alvina Ramadhani)
Teks;
Rektor UMA Prof Dr Dadan Ramdan, M.Eng., M.Sc.
