Suaraakademis.com – Medan||Konflik internal Partai Golkar Sumatera Utara kian memanas. Wakil Ketua Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan HAM DPD Partai Golkar Sumut, Riza Fakhrumi Tahir, secara terbuka menuding Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia sebagai pengkhianat partai, menyusul pencopotan Musa Rajekshah (Ijeck) dari jabatan Ketua DPD Golkar Sumut.
Tudingan keras itu pertama kali disampaikan Riza melalui akun Facebook pribadinya. Dalam unggahan tersebut, ia menuding pemberhentian Ijeck merupakan hasil “persekongkolan jahat” empat elite, yakni Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia, Sekjen Muhammad Sarmuji, Wakil Ketua Umum Ahmad Doli Kurnia Tandjung, serta Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution.
“Demi Bobby Nasution, melalui mertuanya Joko Widodo, mereka tega mengkhianati kepentingan Partai Golkar,” tulis Riza, disertai tagar #LENGSERKAN_BAHLIL_SARMUJI_DOLI.
Saat dikonfirmasi wartawan di Medan, Sabtu (20/12/2025), Riza menegaskan bahwa pencopotan Ijeck bukanlah keputusan murni organisasi, melainkan sarat pesanan politik untuk melemahkan kekuatan Golkar di Sumut menjelang kontestasi Pilkada.
Menurut Riza, Ijeck selama ini merupakan figur kunci yang menjadikan Golkar sebagai instrumen demokrasi yang kuat dan sulit dikalahkan, baik pada Pileg maupun Pilgub Sumut. Karena itu, kata dia, satu-satunya cara melemahkan Golkar adalah dengan menyingkirkan Ijeck dari pucuk kepemimpinan daerah.
“Ijeck harus disingkirkan lebih dulu, lalu diganti figur lemah yang bisa dijadikan boneka. Ini cara paling efektif melumpuhkan Golkar,” ujar Riza.
Ia menyebut langkah tersebut membuka jalan bagi Hendrianto Sitorus, yang diklaim sebagai figur titipan Bobby Nasution, agar dapat melenggang tanpa perlawanan berarti dari Golkar. Riza juga menegaskan bahwa manuver ini berkaitan erat dengan kepentingan politik Bobby Nasution yang memiliki irisan dengan Partai Gerindra dan PSI.
“Bobby adalah kader Gerindra, sementara PSI dipimpin Kaesang Pangarep, putra Jokowi sekaligus iparnya. Ini bukan kebetulan,” katanya.
Riza bahkan menyebut apa yang terjadi di Sumut sebagai bagian dari skenario besar pelemahan Golkar secara nasional. Jika pola ini berhasil, ia menilai Golkar berpotensi terdegradasi serius pada pemilu mendatang.
“Ini bukan hanya soal Sumut. Ini preseden nasional. Golkar bisa tenggelam,” tegasnya.
Secara tegas, Riza menunjuk tiga elite DPP Golkar yang dinilainya paling bertanggung jawab, yakni Bahlil Lahadalia, Muhammad Sarmuji, dan Ahmad Doli Kurnia Tandjung.
“Mereka tidak lagi bekerja untuk Golkar, tapi melayani kepentingan partai lain. Mereka tidak layak memimpin,” ujar Riza.
Ia juga menuding Ahmad Doli Kurnia memanfaatkan momentum tekanan politik terhadap Bahlil dan Sarmuji untuk “menghajar” Ijeck, mengingat sejak Musda ulang Golkar Sumut 2020, Doli disebut terus berupaya menyingkirkan Ijeck namun selalu gagal.
Atas kondisi tersebut, Riza mendesak para tokoh dan sesepuh Golkar seperti Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie, Agung Laksono, Setya Novanto, dan Airlangga Hartarto untuk turun tangan menyelamatkan partai berlambang pohon beringin itu.
“Jangan anggap sepele kasus Ijeck. Jika ini dibiarkan, pelemahan Golkar di seluruh Indonesia hanya tinggal menunggu waktu,” pungkasnya.
Sementara itu, Musa Rajekshah merespons pencopotan dirinya dengan sikap lebih moderat. Ia mengaku belum menerima surat keputusan resmi dan menyerahkan sepenuhnya kepada Ketua Umum DPP Golkar.
“Saya serahkan saja ke Ketua Umum. Tentu beliau punya pertimbangan terbaik,” ujar Ijeck dalam siaran pers di Medan, Sabtu (20/12).
Ia menilai dinamika organisasi merupakan hal yang wajar dan harus disikapi dengan kepala dingin.
Di sisi lain, Sekjen DPP Golkar Muhammad Sarmuji membenarkan pencopotan Ijeck. Ia menyebut keputusan tersebut diambil dalam rangka persiapan penyelenggaraan musyawarah daerah (Musda) Golkar Sumut. (Done)
