
suaraakademis.com | Binjai —
Pergantian pucuk pimpinan Polres Binjai resmi terjadi. Harapan masyarakat kembali menguat, namun bersamaan dengan itu, desakan publik pun semakin keras. Warga Binjai tak lagi ingin disuguhi seremoni, baliho, atau pidato normatif. Yang ditunggu kini hanyalah satu hal: aksi nyata.
Jumat (9/1/2026), di halaman Mapolres Binjai, AKBP Mirzal Maulana, S.I.K., S.H., M.M., M.H. resmi melaksanakan serah terima jabatan sebagai Kapolres Binjai, menggantikan AKBP Bambang Christanto Utomo, S.H., S.I.K., M.Si., yang dipromosikan menjadi Kabagwatpers Ro SDM Polda Jawa Barat.
Pergantian ini disebut sebagai momen penentuan arah penegakan hukum di Binjai. Apakah benar-benar terjadi perubahan, atau hanya pergantian aktor dalam sistem yang sama?
PR Warisan yang Membusuk.
Di balik sambutan hangat, publik mencatat tumpukan masalah lama yang tak kunjung tersentuh. Barak narkoba di Kecamatan Binjai Selatan masih berdiri, bahkan disebut-sebut semakin terang-terangan. Tak jauh dari Jalan Makalona, Kecamatan Binjai Timur, aktivitas mencurigakan masih berlangsung seolah tanpa takut hukum.
Di sisi lain, judi terang-terangan disebut masih beroperasi di wilayah Brahrang, Kampung Tanjung, hingga Pasar 7 Tandem. Warga mempertanyakan:
“Apakah aparat tak tahu, atau pura-pura tak tahu?”
Fakta-fakta ini menjadi tamparan keras bagi institusi kepolisian. Masyarakat menilai, inilah PR besar warisan Kapolres lama yang tak boleh lagi disapu ke bawah karpet.
“Kalau Kapolres berganti tapi barak narkoba tetap berdiri, berarti yang berubah hanya seragam pimpinannya,” celetuk salah seorang warga.
Bukan Kapolres Biasa
AKBP Mirzal Maulana bukan figur sembarangan. Alumni Akpol 2004 ini dikenal sebagai algojo jaringan narkoba di Jawa Timur. Sebelum ditarik ke Binjai, ia menjabat Kasubdit II Ditresnarkoba Polda Jatim hingga 2025. Namanya juga pernah berkibar saat memimpin Satreskrim Polrestabes Surabaya, menangani berbagai kasus kelas berat.
Rekam jejaknya dipenuhi prestasi. Ia dikenal piawai menyusun strategi operasi, tegas terhadap anak buah, dan tanpa kompromi terhadap pelaku kejahatan narkotika.
Kini publik menantangnya:
“Jika di Jawa Timur bisa, mengapa di Binjai tidak?”
Warga Menanti Gebrakan, Bukan Janji
Euforia jabatan baru tak membuat warga terlena. Justru sebaliknya, ekspektasi publik kini berada di titik tertinggi. Masyarakat ingin melihat apakah AKBP Mirzal benar-benar akan menjadi “petir” yang menyambar habis barak narkoba dan sarang judi, atau justru terseret arus birokrasi.
“Jangan sampai Kapolres baru nanti cuma ganti foto di dinding,” ujar seorang tokoh masyarakat.
“Kami ingin lihat barak narkoba digerebek, judi ditutup, bandar ditangkap. Itu baru namanya perubahan.”
Warga Binjai kini menagih bukti, bukan sekadar reputasi masa lalu.
Gebrakan pertama akan menentukan segalanya.
Apakah AKBP Mirzal Maulana berani menyentuh “wilayah panas” yang selama ini dianggap kebal hukum?
Ataukah ia akan mengikuti jejak pendahulunya—diam, kompromi, dan membiarkan masalah membusuk?
Satu hal yang pasti:
Binjai sedang menonton. Dan kali ini, publik tak akan mudah dibohongi. (Wan/Har)
