ARTIKEL
Syafira adalah gambaran dari ketulusan yang sering kali disalahartikan sebagai kelemahan. Ia mencintai dengan cara yang sederhana, jujur, dan sepenuh hati. Tidak berlebihan, tidak pula setengah-setengah. Baginya, mencintai adalah soal kesetiaan dan kepercayaan—dua hal yang ia jaga dengan sungguh-sungguh.
Namun hidup tidak selalu ramah pada orang-orang yang tulus.
Di saat Syafira masih setia menjaga rasa, kekasih yang ia cintai justru memilih pergi. Bukan karena Syafira kurang baik, bukan karena ia tak cukup cantik atau berharga, tetapi karena seseorang yang ia percayai memilih wanita lain. Luka itu datang tanpa aba-aba, meninggalkan tanya, kecewa, dan sunyi yang panjang.
Awalnya, Syafira mencoba bertahan di ingatan. Mengulang ulang pertanyaan: salahku di mana? Ia hampir percaya bahwa dirinya memang tidak cukup. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Ada orang yang menyakiti bukan karena kita kurang, tetapi karena mereka tak mampu mencintai dengan cara yang sehat.
Waktu berjalan. Hari-hari tetap datang, meski hati sempat tertinggal di masa lalu. Pelan-pelan, Syafira belajar satu hal penting: hidup tidak seharusnya dikendalikan oleh luka lama. Ia memilih bangun. Bukan untuk membuktikan apa pun kepada orang yang telah pergi, bukan pula agar ada penyesalan di pihak lain. Ia bangkit demi dirinya sendiri.
“Hiduplah sebaik mungkin,” katanya pada dirinya suatu hari, “sampai aku lupa pernah diperlakukan dengan buruk.”
Bukan lupa karena menekan rasa, tapi lupa karena telah tumbuh.
Syafira mulai mengisi hidupnya dengan hal-hal baik. Ia membangun versi dirinya yang lebih tenang, punya arah, dan utuh. Ia berhenti memberi ruang terlalu besar pada orang yang pernah melukainya. Karena setiap kali ia terus mengingat cara seseorang menyakitinya, berarti ia sedang membiarkan masa lalu menguasai masa depan.
Kini, jika Syafira mengingat kisah itu, hatinya tidak lagi bergetar. Ia ingat, tapi tak lagi merasa apa-apa. Tidak ada dendam, tidak ada sesal—hanya pelajaran.
Hidup dengan baik ternyata adalah bentuk pemulihan paling indah.
Dan Syafira telah membuktikannya.
Ia pernah terluka.
Tapi ia memilih tumbuh.
Dan itu jauh lebih kuat daripada sekadar bertahan. 🌱
