Nias-Pelayanan Di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Thomsen Nias kembali menuai sorotan. Hal itu buntut dari kekecewaan orang tua pasien yang memposting di dinding salah satu platform media sosial.
Akun medsos Ama Valent Gilbert Harefa membuat gempar masyarakat, terkhusus lagi di RS Thomsen Nias instiusi kesehatan milik Kabupaten Nias tersebut.
Sejumlah netizen ikut mengomentari postingan tersebut, mereka seakan akan meluapkan kekecewaan yang sudah di pendam selama ini atas pelayanan dan buruknya management rumah sakit tersebut.
Banyak sekali komentar negatif yang meminta Bupati Nias turun tangan untuk membenahi management rumah sakit Thomsen rujukan daerah Kepulauan Nias yang mengakibatkan pasien-pasien yang berobat di RSUD terlantar bahkan sampai bertarung nyawa.
Awak media ketika menghubungi orang tua pasien via telepon selulernya menuturkan bahwa anaknya Gilbert Harefa (10) tahun masuk rumah sakit 21/12/2025, setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter Dewi ternyata pasien menderita penyakit usus buntu (apendiks) yang membutuhkan tindakan operasi segera, namun tak kunjung dilakukan tindakan operasi. Org tua sangat cemas terhadap kondisi anak karena kesakitan dan takut kalau kalau usus buntunya pecah yang sangat merugikan pihak pasien dan keluarga, hingga pada tanggal 23/12/2025 malah salah seorang perawat menyarankan untuk mengurus rujukan di salah satu puskesmas, sementara RS Thomsen tersedia dokter bedah dan kamar operasi.
Menghindari hal buruk yang terjadi kepada anaknya maka pada tanggal 23/12/2025 keluar dari RS Thomsen Nias beralih ke RS Bethesda Gunungsitoli. Setelah beberapa hari dirawat disana maka dilakukan tindakan operasi oleh dokter Yamoguna Zega, Sp.B yang sehari-harinya juga bekerja di RS. Thomsen Nias. Tetapi tidak melayani operasi di rumah sakit tempat ia bekerja tanpa alasan yang jelas. Hal ini menjadi tanda tanya besar, RSUD dr.M Thomsen Nias mempunyai 2 orang Dokter Spesialis Bedah dan menurut pengamatan kami sudah cukup lama bekerja di RSUD Thomsen Nias; dr.Yamoguna Zega,Sp.B dan dr.Victor Krisman Fa’atulo Telaumbanua,Sp.B tetapi kenapa tidak melayani tindakan operasi dan cenderung merujuk kemedan atau RS lain? Bahkan 2 orang dokter spesialis bedah yang sebelumnya bekerja di rumah sakit Thomsen yakni ; dr.Hadjriadi Syah Aceh,Sp.B dan dr. Jefrry Adikam Sitepu,Sp.B tidak lagi ingin melayani di RSUD dr.M Thomsen sehingga SIP mereka, tidak memperpanjang di RSUD dr.M Thomsen dan lebih memilih melakukan pelayanan di RS. Bethesda karena buruknya management RS Thomsen Nias dibawah kepemimpinan direktur saat ini. Menurut salah satu dokter bedah yang sudah keluar jika Manejement ada perbaikan dan evaluasi kepemimpinan maka mereka akan kembali beserta teman- teman spesialis lain yang sempat melayani dan akhirnya keluar, diantaranya dokter Obsgin (2 orang telah keluar) dan 1 orang dokter saraf.
Salah seorang tenaga kesehatan yang tidak mau disebutkan namanya mengakui bahwa pelayanan pasien di tahun 2025 sangat buruk, salah satu faktornya karena jasa pelayanan tidak lancar di bayarkan pihak management kepada para dokter dan tenaga kesehatan ditambah lagi pembagian jasa yang sangat beda jauh dimana direktur mendapat bagian diatas 90 juta perbulannya sedangkan tenaga kesehatan yang setiap saat melayani pasien hanya mendapat bagian 2-3 juta.
Semakin merosotnya pelayanan di RS Thomsen Nias salah seorang mantan Anggota DPRD menyarankan agar Bupati Nias segera melakukan penyegaran pihak management bila perlu Direkturnya di ganti.
Lanjut awak media mengkonfirmasi direktur Thomson dr noverlina Zebua melalui pesan singkat via WhatsApp namun tidak jawab
