Aceh Tamiang — Kesedihan mendalam menyelimuti warga Kampung Tempel, Dusun Ingin Jaya, Desa Perkebunan Pulau Tiga, Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang, setelah banjir besar melanda kawasan tersebut. Derasnya arus sungai yang meluap akibat hujan berkepanjangan mengakibatkan sedikitnya 11 rumah warga hilang terseret banjir.
Peristiwa memilukan itu terjadi saat hujan turun dengan intensitas tinggi sejak malam hari. Air sungai yang terus naik akhirnya meluap dan menghantam permukiman warga yang berada di bantaran sungai. Dalam waktu singkat, rumah-rumah yang berdiri puluhan tahun tak mampu menahan kuatnya arus, hingga roboh dan hanyut terbawa banjir.
“Air datang sangat cepat. Kami tidak sempat menyelamatkan apa-apa,” ujar salah seorang warga Kampung Tempel dengan suara bergetar. Ia hanya bisa menyelamatkan diri bersama keluarganya, sementara rumah beserta seluruh isi di dalamnya lenyap dalam sekejap.
Akibat kejadian tersebut, puluhan warga kini terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, menumpang di rumah kerabat dan lokasi pengungsian sementara. Mereka kehilangan tempat tinggal, pakaian, peralatan rumah tangga, serta dokumen penting. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling terdampak, mengalami trauma akibat kejadian tersebut.

Selain rumah warga, banjir juga merusak akses jalan desa dan lahan perkebunan milik masyarakat. Aktivitas warga lumpuh total, sementara kebutuhan logistik seperti makanan, pakaian, selimut, dan obat-obatan mulai sangat dibutuhkan.
Pemerintah desa bersama aparat terkait dan relawan setempat telah melakukan pendataan terhadap korban terdampak banjir. Upaya penyaluran bantuan darurat serta evakuasi terus dilakukan guna memastikan keselamatan warga.
Warga Kampung Tempel berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah. Mereka menginginkan penanganan cepat, baik bantuan kemanusiaan maupun solusi jangka panjang agar banjir serupa tidak terus berulang.
Bagi warga Aceh Tamiang, khususnya Kampung Tempel, banjir ini bukan sekadar bencana alam, melainkan pukulan berat yang menghilangkan tempat pulang dan harapan yang telah mereka bangun bertahun-tahun. Kini, yang tersisa hanyalah doa agar air segera surut dan kehidupan bisa kembali berjalan.
Sumber: Andi
