SuaraAkademis.com —Anggapan bahwa Suku Nias merupakan suku tertua di Indonesia telah lama berkembang di tengah masyarakat. Klaim ini sering dikaitkan dengan kuatnya tradisi adat, budaya megalitik yang masih hidup, serta relatif minimnya pengaruh luar terhadap masyarakat Pulau Nias. Namun, dalam kajian akademik, sebuah klaim sejarah tidak dapat dilepaskan dari data antropologi, genetika, dan arkeologi.
Lantas, seberapa valid anggapan tersebut jika ditinjau secara ilmiah?
Jejak Migrasi dan Asal-Usul Suku Nias
Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa leluhur Suku Nias berasal dari gelombang migrasi Austronesia awal yang memasuki wilayah Nusantara sekitar 4.000 hingga 5.000 tahun yang lalu. Pendapat ini sejalan dengan teori migrasi Austronesia yang dikemukakan oleh arkeolog dan antropolog terkemuka Peter Bellwood, yang menyatakan bahwa populasi Austronesia menyebar dari Taiwan menuju Asia Tenggara dan Kepulauan Indonesia.
Bahasa Nias sendiri termasuk dalam rumpun Austronesia Barat, memperkuat dugaan bahwa masyarakat Nias merupakan bagian dari migrasi awal tersebut.
Isolasi Geografis dan Keunikan Genetik
Salah satu faktor penting yang membuat Suku Nias sering disebut sebagai suku kuno adalah tingginya tingkat isolasi geografis Pulau Nias. Selama ribuan tahun, keterbatasan akses dan kondisi alam menyebabkan masyarakat Nias relatif tertutup dari arus migrasi besar.
Penelitian genetika yang dilakukan oleh Heinz Schiefenhövel dan tim peneliti internasional menunjukkan bahwa masyarakat Nias memiliki keragaman genetik yang rendah namun stabil, menandakan populasi tua yang berkembang secara relatif tertutup dalam jangka waktu panjang.
Budaya Megalitik sebagai Penanda Peradaban Tua
Budaya megalitik Nias menjadi salah satu bukti paling kuat tentang tua dan berkelanjutannya peradaban masyarakatnya. Tradisi pendirian batu besar, struktur desa adat, sistem kasta sosial, hingga ritual hombo batu (lompat batu) merupakan warisan budaya yang telah bertahan selama berabad-abad.
Menurut kajian arkeologi Indonesia, budaya megalitik di Nias merupakan salah satu yang paling lengkap dan masih berfungsi secara sosial, berbeda dengan daerah lain yang hanya menyisakan artefak tanpa praktik adat aktif.
Apakah Suku Nias yang Paling Tertua?
Meski memiliki peradaban yang sangat tua, para ahli sepakat bahwa Suku Nias tidak dapat diklaim sebagai suku tertua secara absolut di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa wilayah Nusantara telah dihuni manusia sejak puluhan ribu tahun lalu.
Sebagai perbandingan:
- Suku Papua diperkirakan telah mendiami wilayah Indonesia timur sejak 40.000–50.000 tahun lalu.
- Kelompok Negrito di Sumatra dan Kalimantan merupakan bagian dari migrasi manusia awal.
- Suku Mentawai dan Dayak juga memiliki jejak peradaban yang sangat tua dengan karakteristik unik masing-masing.
Dengan demikian, istilah “suku tertua” dalam konteks Nias lebih tepat dimaknai sebagai salah satu suku tua dengan kontinuitas budaya paling terjaga di Indonesia.
Kesimpulan Akademik
Berdasarkan kajian lintas disiplin, dapat disimpulkan bahwa:
- Suku Nias merupakan salah satu suku tua di Indonesia dalam kerangka migrasi Austronesia.
- Keunikan genetik dan budaya megalitik menjadikan Nias sebagai peradaban kuno yang masih hidup.
- Namun, secara kronologis, Suku Nias bukan suku tertua secara mutlak di Indonesia.
Pemahaman ini penting agar diskursus sejarah tidak terjebak pada romantisme semata, melainkan berdiri di atas landasan ilmiah yang objektif.
Daftar Referensi
Bellwood, P. (2007). Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago. ANU Press.
Schiefenhövel, W. et al. (2003). Genetic and Cultural History of the Nias Population. Human Biology Journal.
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta.
Simanjuntak, T. (2015). Prasejarah Indonesia. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
